—
Saya berharap ada yang membantah saya. Tentang sepeda motor yang tak sabaran. Ada juga sepeda. Saya menanya beberapa pemotor dengan pertanyaan yang menggiring: apakah mereka suka menerobos ruang sela yang sempit karena malas berhenti dan menurunkan kaki?
Yang saya dapatkan adalah afirmasi, dari senyuman, tertawa kecil, sampai, “Gitu aja ditanyain, kayak situ nggak pernah naik motor”.
Tentu hal itu hanya berlaku bagi sebagian pemotor. Ada juga yang menambahkan alasan karena terburu-buru. Baiklah, kalau saban hari terburu-buru, masa di jalan sepi bahkan di desa dan pinggir kota juga bisa begitu, padahal motor tak kencang karena jalannya jelek banyak lubang?
Saya teringat hal itu karena di beberapa grup WhatsApp ada yang mengirimkan video di atas. Akhirnya saya cari dari mana sumbernya. Unggahan yang saya temukan di Instagram mungkin bukan yang pertama. Saya belum mencari tahu bagaimana di Facebook, YouTube, dan TikTok.
Saya kerap mengalami saat mengendarai mobil dipotong oleh motor dengan mendadak. Yang paling sering, saya sudah memelankan mobil, menyalakan lampu sein, karena akan belok kiri maupun kanan, tiba-tiba dari samping nongol motor. Pernah juga diserobot motor dari belakang samping ketika mobil sudah berhenti di depan palang gerbang parkiran. Lutut pembonceng menyodok mobil saya.
Stop-and-go mengendarai kendaraan roda dua itu tak nyaman, apalagi jika jalan agak menanjak. Tetapi motor lebih nyaman daripada sepeda karena tinggal ngegas. Jadi apa susahnya berhenti dan menurunkan kaki, apalagi di jalan datar?
Saya tak tahu apa sebenarnya akar masalah. Kalau menyebut soal SIM, hampir semua punya. Kalau dibilang tak paham aturan dan sopan santun lalu lintas, kok ketika pemotor nekat itu dalam posisi dirugikan oleh kendaraan lain dia tahu alasan yang tepat untuk marah: orang lain tak sabar, bahkan ngawur.
Beberapa kali saat saya memundurkan mobil, keluar dari carport dengan perlahan dan stop-and-go, tiba-tiba motor memaksa memasuki celah antara pantat mobil dan got. Sebagian di antaranya adalah perempuan dewasa yang justru menurunkan kedua kaki tanpa berhenti. Mungkin mereka meniru The Flintstones yang memanfaatkan kaki sebagai akselarator dan deselerator untuk merayakan kelebihan makhluk bipedal.
Masalah lain adalah pemotor masuk jalan tanpa menoleh. Misalnya keluar dari gang atau setelah beranjak dari warung pinggir jalan. Saya pernah mendadak mengerem dan pindah lajur ke kanan karena ada pemotor berboncengan keluar dari gang sambil tertawa-tawa. Mobil belakang kesal, lalu di jalan dua arah itu pengemudinya sengaja bermanuver provokatif karena dia mengira saya mencari masalah dengan menghalangi dia.
Keponakan istri saya, dalam usia 17 tahun, pada 27 tahun silam, meninggal tertabrak bus sekeluar dari gang. Saat itu dia membonceng motornya sendiri yang dikemudikan oleh teman sekolahnya. Si pengendara selamat.

Setiap kali mengalami hal tak mengenakkan dengan pemotor yang malas berhenti dan enggan menurunkan kaki, saya selalu membatin kenapa tak naik motor roda tiga. Maaf saya tak bermaksud merendahkan kaum difabel menggunakan motor roda tiga, saya justru salut.
Kalau motor roda empat setahu saya bukan untuk jalan umum. Memang sih sebutan motor roda empat adalah all-terain vehicle (ATV), tetapi sama dengan trike (roda tiga) para penunggangnya tak perlu menurunkan kaki saat berhenti.
Maaf kalau kebatinan saya, artinya yang saya batin, bagi Anda adalah suatu kekurangajaran. Semua orang tahu harga sepeda motor berdoa tiga, yang bukan untuk barang, mahal harganya.
Mungkin ada yang berpendapat motor roda tiga menyesaki jalan. Lebar Yamaha NMAX Turbo (beroda dua) adalah 740 mm, sedangkan lebar Piaggio MP3 300 HPE (beroda tiga), adalah 800 mm. Keduanya tak mampu saya beli, tetapi sama-sama-sama bisa bikin sesak jalan sempit berlalu lintas padat. MP3 bikin pengendara tak perlu menurunkan kaki saat berhenti. Dengan catatan kalau penunggangnya sabar.
