
Pasti karena terpaksa jika ada orang menjemur cucian di pagar jembatan yang lalu lintasnya ramai. Saya melihatnya tadi siang di pertigaan Jalan Pasar Kecapi dan gerbang Chandra Indah, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar.

Permukiman padat nan sesak di sebuah area tak memungkinkan setiap ruang hunian memiliki tempat untuk mengeringkan cucian, dengan menjemur maupun menganginkan. Untung jemuran ini pakaian luar, kalau pakaian dalam pasti memalukan bagi penjemur.

Sebenarnya asalkan tak tebal amat, dan udara tak lembap, cucian cukup dikeringanginkan. Masalahnya kalau ruang untuk itu memang tak tersedia mau bagaimana lagi. Mesin cuci dengan pemeras hingga apuh, apalagi unit khusus pengering, itu masih tergolong mahal. Belum lagi biaya listriknya.

Maka pagar jembatan pun menjadi solusi. Soal keselamatan jemuran yang tak dijepit adalah tertiup angin sehingga jemuran tercemplung ke kali. Kalau dicuri? Saya tak tahu apakah zaman sekarang masih ada maling jemuran.
—
Kenapa saya menampilkan lokasi dalam peta seperti yang dicatat oleh ponsel saya? Karena itu bukan di sebuah rumah tinggal, sehingga tak dapat disebut melanggar privasi. Kolong jembatan itu pun tak mungkin untuk hunian karena jarak dek ke permukaan kali sangat rendah, dan di bawah wot tak ada sisi yang kering.


2 Comments
Tentang cucian dan jemuran, hari-hari ini saya direpotkan oleh hujan yang turun tiap hari sehingga membuat cucian tak kering hingga empat hari.
Betooollll.
Cucian yang lama keringnya meski dicuci pake pewangi tetep apek lembap baunya.
Dulu kalo baca kelahiran bayi kembar lima saya bayangkan repotnya, selain soal menyusui juga cucian saat musim untuk kain alas.
Duh gak tega bayangin banjir dan tanah longsor 😢