
Ramadan mulai sebulan lagi. Sejak awal pekan ini, bahkan sebelumnya, minimarket mulai memajang aneka kebutuhan bulan puasa dan Lebaran. Bukan hanya kurma dan kebutuhan dapur Ramadan melainkan juga sarung.
Apakah mulai Februari nanti, bahkan sebelumnya, harga-harga memanjat tangga, kita lihat saja. Masalahnya perekonomian sedang tak sumringah. Orang pada menahan konsumsi, terutama kelas menengah tanggung dan yang di bawahnya.

Konsumsi menggerakkan ekonomi. Jika terlalu lama mal hanya diisi rojali (rombongan jarang beli) dan rohana (rombongan hanya nanya) tentu amsyong. Yang pedagang harapkan adalah robeli (rombongan benar-benar beli). Tentu pelabelan untuk ketiga kelompok konsumen itu lebih berlaku untuk kebutuhan non-pangan.

Semoga nanti, mulai awal Maret, ketika THR sudah cair karena tak membeku, konsumsi lebih cerah. Pada hari biasa, bukan Ramadan, jika pengeluaran terbesar keluarga untuk makanan berarti ekonominya nggak bagus. Padahal yang terjadi tahun lalu dan sebelumnya, kelas menengah turun garis. Lebih menyedihkan lagi jika seperempat upah habis untuk biaya transpor ke dan dari tempat kerja.


