Calon pendiri dinasti tajir

Saya ingin jadi wong sugih karena bisa bergaya kesrakat. Kalau sebaliknya? Susaahhh....

▒ Lama baca < 1 menit

Pikap calon konglomerat di jalan tol JORR — Blogombal.com

Memang mbagusi tulisan pada pikap ini: perintis bukan pewaris. Mungkin pemiliknya merangkap sopir — atau sebaliknya. Dalam tafsir saya, inti pesan pada bak pikap adalah si pemilik merupakan seorang perintis bisnis, kelak jika bisnisnya besar, lalu keluarganya menjadi sugih hingga ke anak cucu, dia layak disebut sebagai pendiri sebuah wangsa nan kaya.

Banyak konglomerat mengawali bisnis dengan merangkak. Setelah bisnis dan keluarganya sukses makmur — eh, jadi teringat PT Indofood Sukses Makmur Tbk (IDX: INDF) — anak dan cucu-cucunya ketika memulai bisnis tak perlu merangkak seperti pendiri. Mereka adalah pewaris, bukan perintis.

Tentu tak berarti bisnis para pewaris itu mudah. Kegagalan adalah risiko. Bedanya, para pewaris tak sampai mengalami kehilangan mobil apalagi rumah satu-satunya.

Pikap calon konglomerat di jalan tol JORR — Blogombal.com

Putri Tanjung, anak dari Chaerul Tanjung, pernah menjadi perbincangan publik setelah mengatakaan, “Saya pernah rugi besar sebanyak Rp800 juta karena bisnis. Saat itu saya sedih banget sampai mogok kerja dan mengurung diri di kamar selama dua sampai tiga hari.” (¬ Liputan 6, 2022).

Di sisi lain, Benny Tjokro, yang menggerogoti BUMN PT Asuransi Jiwasraya, disebut suka bermewah-mewah. Anak juragan Batik Keris itu kabarnya juga gemar berjudi (¬ Detik, 2020).

Sedangkan langkah bisnis Edward Soeryadjaya, putra William Soeryadjaya, sering kali kontroversial, bahkan ada yang berujung ke pengadilan (¬ Kumparan, 2021).

Jika Anda membaca novel Crazy Rich Asians (Kevin Kwan), terkisahkan di keluarga supertajir Singapura itu hidup amat mewah, bisa dengan mudah membeli hotel di London karena jengkel terhadap sikap manajer hotel. Setelah membeli hotel, keluarga Young memecat si manajer.

View this post on Instagram

Apakah semua keluarga triliuner umpak-umpakan? Nggak juga sih. Ada yang biasa saja. Misalnya, menurut kabar, adalah Armand Hartono, anak Robert Budi Hartono. Semoga benar demikian, bukan pencitraan. Tetapi kalau benar, buat apa punya duit? Apa sih susahnya beli sepatu baru saat sepatu lawas sobek? OB di salah satu anak usaha grup Djarum saja di tempat kerja punya stok sepatu untuk gonta-ganti.

Repot juga jadi orang kaya. Kalau bersahaja wajar sesuai kelasnya dicurigai. Tetapi jika bermewah diri secara pol dianggap tak peka. Meskipun demikian, jadi orang beruang itu enak karena bisa berlagak miskin — kalau sebaliknya lebih sukar.

2 Comments

Junianto Jumat 16 Januari 2026 ~ 06.40 Reply

Istri saya pendiri (bisnis yang biasa-biasa saja, bukan triliunan). Senang membeli dan memakai barang mahal tapi antipamer di dunia maya (medsos) maupun dunia nyata.

Pakai anting berlian mahal, kalau ditanya harganya dia menjawab, “Oh, ini cuma berlian palsu, imitasi.” Pakai beberapa gelang emas tapi memilih yang putih agar tidak mencolok….

Suaminya? Punya satu tril tua saja, tur ora ori, saben byar dipamerkan di medsos.😁

Pemilik Blog Jumat 16 Januari 2026 ~ 13.38 Reply

Soal pilihan dan kenyamanan. Tiap orang berbeda.

Tinggalkan Balasan