Dagelan jaksa memeras oknum WNA Korea

Persoalan korupsi menjadi klasik karena sebagian masyarakat sejak dulu menoleransi.

▒ Lama baca < 1 menit

Dagelan jaksa memeras oknum WNA Korea — Blogombal.com

Berita korupsi oleh penegak hukum itu membosankan. Tetapi kita tidak dapat membiarkan. Maka media harus rajin memberitahu, jika perlu mengawal tak hanya sampai putusan tetap, tetapi juga sampai mereka bebas agar sejarah mencatatnya, dan anak istrinya bahkan cucunya bangga tiada tara.

Dari kasus pemerasan jaksa di Banten, terhadap oknum warga negara Korea Selatan yang tersangkut pidana umum, ada hal yang lucu: KPK bertindak karena menyangkut citra Indonesia di mata asing (Kompas, Sabtu 21/12/2025).

Dagelan jaksa memeras oknum WNA Korea — Blogombal.com

Jadi, kalau korbannya warga sendiri, itu kurang menarik untuk diusut. Anda percaya, pada 2045, Indonesia Sentenial, artinya seabad, penegakan hukum di negeri sudah genah?

Lalu kenapa saya menerapkan istilah oknum justru pada korban pemerasan, padahal sejak dulu saya tak suka istilah tersebut? Suka-suka saya, karena pemerintah juga suka berbahasa sesukanya. Dalam ledekan warganet, oknum kok hampir satu korps.

Jaksa Ginting tak punya malu. Menyedihkan. — Blogombal.com

Arsip: Oknum, anggota, dan personel dalam bahasa berita: Oknum diserap dari kata Arab uqnum, namun sejauh saya mencari tahu tak ada persoalan konotasi maupun denotasi. Malah dalam teologi Kristiani, oknum dipakai untuk menyebut tiga pribadi dalam trinitas

2 Comments

mpokb Senin 22 Desember 2025 ~ 21.57 Reply

Sudah enak jadi jaksa, bakal dapat pensiun pulak, eh masih korupsi..

Pemilik Blog Selasa 23 Desember 2025 ~ 08.18 Reply

Kita nggak habis mikir tapi mereka nggak mikir selain duit duit, kalo kebongkar bagi mereka itu karena apes. Nggak beda sama naik motor tanpa helm disetop polisi

Tinggalkan Balasan