Mereka mengarungi banjir, mencari bantuan, tapi tak kembali

Di sebuah dusun di Aceh, hanya ada satu rumah untuk menampung ratusan pengungsi, termasuk bayi.

▒ Lama baca < 1 menit

Pada malam hari pertama bencana, empat orang laki-laki memutuskan untuk keluar dari rumah dan mencoba menyeberang menggunakan boks plastik untuk mencari makanan. Harapannya bisa membawa apa saja yang dapat dimakan dari luar kampung, namun yang terjadi mereka yang pergi tak kunjung kembali. Kekhawatiran pun semakin menjadi.

Empat orang itu adalah bagian 134 pengungsi di rumah Citra Dewi, Gang Cendana, Dusun Bahagia, Kampung Bundar, Aceh Tamiang. Satu-satunya rumah di sana yang mulanya hanya menampung pengungsi perempuan dan anak-anak, namun akhirnya para pria yang mengungsi di masjid pun pindah ke sana karena rumah ibadah itu hampir tenggelam.

Laporan Project Multatuli tentang bencana di Aceh — Blogombal.com

Setelah empat pria itu tak kembali, Citra menuturkan,

“Kami khawatir, tapi kita kan gak boleh nyerah, dengan banyaknya anak-anak ini pulalah kami jadi kuat dan akhirnya keesokan harinya, keluar lagilah dua orang laki-laki tapi itu pun sama, mereka tak kembali juga.”

Di tengah terpaan ribuan foto dan video di media sosial tentang bencana Sumatra, luangkanlah waktu Anda untuk membaca laporan jurnalistik Project Multatuli, yang terbit Rabu (17/12/2025). Judulnya “Dikepung Banjir di Gang Cendana: 134 Orang, Satu Rumah, Satu Doa“.

Alangkah berat dan repot situasi dalam rumah itu. Bayi-bayi menangis karena lapar terdengar menyiksa daya tahan orang dewasa. Sebisanya Syafrizal, suami Citra yang sedang sakit karena hipertensi, mengatasi keadaan, termasuk mengupayakan air agak bersih.

Laporan Project Multatuli tentang bencana di Aceh — Blogombal.com

Sebagian dari mereka membuat rakit dari batang pohon pisang, mengarungi sungai sedalam tujuh meter, untuk mencari bantuan. Dalam perjalanan, warga yang menggunakan galon air minum sebagai pelampung meminta mereka pulang, karena di kota juga tidak ada posko ataupun bantuan, air dan arus justru lebih tinggi.

Citra mengisahkan,

“Belum sampai Simpang, kami lihat ada jajan-jajanan hanyut, itulah yang kami tangkap, mie gelas yang uda kembang, apa ajalah yang bisa dimakan, termasuk buah-buahan yang hanyut kami ambil aja. Itu pun posisi kawan-kawan yang berenang di samping rakit uda pada keram, ada yang keram perut, keram kakinya, karena kami pun belum makan.”

Tinggalkan Balasan