Bencana, framing, lalu kita akan menyekolahkan siapa?

Gajah disekolahkan. Pejabat masih perlu disekolahkan terus dan terus.

▒ Lama baca 2 menit

Negeri ini makin membingungkan justru saat menghadapi bencana besar di Sumatra dan kegagalan pengelolaan lingkungan di banyak tempat. Lalu CNN mencabut video reporternya yang menangis di lokasi bencana. Najwa Shihab dulu juga menangis saat melaporkan tsunami di Aceh, 2004, untuk Metro TV.

View this post on Instagram

Anda berhak menilai layak tidaknya jurnalis dalam siaran TV menangis. Tapi pencabutan video CNN ini bagi saya berlebihan karena antara lain untuk menghindari penggunaan oleh pihak lain untuk framing dan mendiskreditkan pihak tertentu. Halah, konten apa pun bisa dimainkan pihak lain sehingga tercabut dari konteks asal.

Jika pembelokan konten terlalu jauh, menjadi diinformasi sampai fitnah, ada Mafindo / Turn Back Hoax maupun laman Klarifikasi Hoaks Komdigi untuk meluruskan. Sayang, laman pemerintah ini bukan selayaknya clearing house, malah lebih mirip kumpulan kliping media berita.

Hal itu mirip hasil kerja bagian humas pemda pada masa awal internet, yaitu tidak mampu bikin berita sendiri karena meneruskan pekerjaan lama mengguntingi berita koran atas nama pemantauan media.

Di tengah bencana ada saja kabar mengesalkan, menyakitkan, dan memprihatinkan untuk menguji kesabaran dan ketabahan rakyat di luar kawasan bencana. Jangan tanya bagaimana perasaan korban bencana. Misalnya pejabat bersantap lengkap lezat setelah meninjau bencana sambil satu tangan memegang cerutu.

Baiklah, merokok itu tidak sehat, juga bagi yang tak merokok. Pun baiklah jika cara menikmati cerutu dan rokok itu berbeda. Namun keduanya sama-sama berasap. Dalam situasi tertentu, mengisap cerutu lebih mendekati ritual menikmati hidup dan merayakan keberhasilan.

Hanya saja, bagi perokok apalagi pencerutu, makan kacang sambil mengasap itu masih layaklah, tetapi tidak untuk makan nasi rendang dan lauk lain. Dari sisi etiket makan bersama orang lain juga tak patut. Bahkan hanya memegang rokok atau cerutu, sementara satu tangan sedang menyuapi diri, pun tak elok

@minaq_jinggo 20251217 – Menteri Dalam Negeri Indonesia harus disekolah kan dahulu mengenai adab dan budi bahasa. Kalau jiran atau rakan membantu waima dengan RM60 sekalipun kita harus beradab mengucapkan terima kasih. Inikan pula USD60,000. #raisyatim #indonesianministerbelittlesfloodaid #menteriindonesiaharusberbudibahasa ♬ original sound – jinggo_citizennews

Lalu ada pejabat menyatakan bantuan dari negeri jiran itu tak seberapa. Bagi yang orang Jawa, gelem mbiyantu iku wis pira-pira. Ada yang bersedia membantu itu sudah bagus, harus disyukuri. Tak elok mengecilkan bantuan pihak lain saat kita terimpit musibah.

Kemudian muncul keprihatinan dari negeri pemberi bantuan agar pejabat yang berbicara seperti itu disekolahkan untuk belajar adab dan budi bahasa. Kita, sebagai rakyat, sampai malu diceramahi hal macam itu. Okelah, negeri ini takkan bangkrut, tetapi apakah adab penyelenggara negara sudah mengarah bangkrut, tak hanya pada saat berlangsung bencana?

Ingat sekolah dan disekolahkan, saya ingat ironi dalam berita perihal gajah Sumatra. Habitat mereka rusak, anggota mereka ada yang mati diracun, dan satwa kuat itu ada yang mati dihanyutkan banjir bandang. Namun gajah pula yang dilibatkan untuk membantu menyingkirkan timbunan batang kayu gelondongan.

Gajah Sumatra bekerja mengatasi akibat bencana — Blogombal.com

“Dahulu, Aceh memiliki lebih dari 1.000 individu gajah yang siap diterjunkan ke medan pertempuran. Paling tidak, saat menyerang Portugis di Johor, Aceh diperkuat oleh pasukan gajah yang diangkut dengan kapal perang,” kata Tarmizi A Hamid, pemerhati sejarah sekaligus kolektor manuskrip kuno Aceh (Kompas.id, 10/12/2025).

Akan tetapi Ali Akbar, anggota Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), tak setuju jika gajah menjadi pengganti alat berat. Mereka seharusnya menjadi petani hutan.

Dengan badannya yang besar, makan yang banyak, dan daya jelajah yang luas, gajah bisa menyebarkan benih. Selain itu, dengan pergerakannya, mereka bisa memastikan tidak ada dominasi salah satu jenis vegetasi. Menurut Ali:

“Setiap injakan dari langkah kaki mereka bisa memastikan hanya tanaman hutan berkualitas yang tumbuh baik sehingga tutupan hutan terus terjaga.”

Mengapa gajah bisa membantu penanganan bencana? Karena mereka dilatih, artinya disekolahkan. Beberapa gajah itu adalah veteran pekerja saat tsunami Aceh 21 tahun silam. Tetapi apakah pejabat harus bekas sukarelawan apalagi pernah menjadi korban bencana?

2 Comments

mpokb Jumat 19 Desember 2025 ~ 16.51 Reply

Maksudnya orang pegang cerutu sambil makan itu apa?
Mungkin dia perlu tes urine atau vaksin rabies, Bang Paman

Pemilik Blog Jumat 19 Desember 2025 ~ 17.46 Reply

Nggak paham saya. Mungkin itu cerminan bencana pekerti. Seperti juga pejabat yang mengecilkan bantuan dari tetangga.

Tinggalkan Balasan