
Dari jalan saya dengar obrolan di teras sebuah rumah di area tetangga kompleks, yang menjadi kedai kecil itu, “Pemerintah malu sama luar negeri nggak sih?” Sekilas saya dengar mereka membahas bencana lingkungan di Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Obrolan berikutnya tak terdengar karena saya terus mengayunkan langkah. Namun pertanyaan tadi membuat saya berpikir. Kalau pemerintah malu, apa alasannya? Tetapi kalau tak malu, kenapa pula?
Inisiatif Gubernur Aceh Muzakar “Mualem” Manaf meminta bantuan tim dari Cina untuk mencari jenazah di antara lumpur dan reruntuhan tak cukup kita pahami namun juga kita hargai. Bahwa ternyata tim ahli berteknologi bagus itu terkendala lautan kayu gelondongan, yah apa boleh buat. Dalam pengalaman mereka di negerinya tak ada hambatan macam itu.
Lalu Pemprov Aceh secara resmi meminta bantuan UNDP dan Unicef untuk turut membantu menangani akibat bencana ekologis itu, seperti saat tsunami 2004, bahkan bendera putih juga berkibar di kantor pemerintah dan masjid. Bendera putih tanda menyerah dan kesal. Entah apa yang ada di benak para pemimpin di Jakarta.
Saat ini tercatat 77 lembaga yang mengikutsertakan 1.960 relawannya dalam upaya pemulihan bencana di Aceh. Sudah tiga pekan akibat bencana belum teratasi, namun belum ada status bencana nasional.
Warga di Aceh Tengah dan Bener Meriah harus berjalan puluhan kilometer setiap hari untuk membeli sembako dan BBM.
Kondisi ini sudah berlangsung selama lebih dari dua pekan, sejak banjir dan longsor menerjang wilayah tersebut akhir November lalu. pic.twitter.com/ctcylnfFfj
— BBC News Indonesia (@BBCIndonesia) December 15, 2025
–



4 Comments
Malu?
Ndhasmu!
🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Waduh 🫣
pemerintah saat ini emang ndableknya ga karuan, mau kesel tapi ya mau gimana lagi
sampai tega segitunya, ga habis pikir lagi saya, paman
Yah gitu deh.
Menyedihkan.😩