
Beberapa kali saya melihat iklan Pandai Gadai di situs web. Tidak saya klik, karena belum tertarik. Tadi di jalan raya sebuah perumahan saya lihat papan nama Pandai Gadai yang logonya bergambar panda. Saya membatin nama pandai mencomot gaya bahasa arkais. Kalau mengandaikan cinta, itu dunia Gombloh (Soedjarwoto Soemarsono, 1948–1988).
Pandai besi, kita tahu. Entah dengan anak atau cucu kita karena media berita lebih sering menyebut pengrajin dan perajin besi — sebutan yang baku adalah perajin, yang juga dapat berarti orang yang rajin. Hal sama untuk pandai perak, lebih sering disebut perajin perak.

Kalau pandai emas? Sejauh ini, menurut kesan saya, istilah ini masih laku. Maka Pandai Gadai, karena menerima gadai emas, berarti menerima karya pandai emas — ya, dalam huruf kecil. Kalau Pandai Emas itu nama badan usaha.
Pandai lukis? Sebutan untuk pelukis. KBBI menandai kata ini sebagai kata arkais. Namun KBBI belum menganggap arkais istilah pandai hidup. Bisa berarti pintar dalam menyiasati kehidupan sehari-hari, selalu tercukupi, tanpa berutang; namun dapat juga berarti pandai menempatkan diri dalam pergaulan.
Lalu ada pula pandai berselit-belit, artinya orang yang pintar berkelit. Perihal Pandai Besi sebagai nama band, itu adalah dua pertiga anggota Efek Rumah Kaca, yakni Cholil Machmud dan Akbar Bagus Sudibyo, yang berkolaborasi dengan sejumlah musisi.

4 Comments
Joko Widodo pandai apa?
Itu siapa?
Panda Pandai, pinter juga yg bikin iklan hehe
Itu juga yang terpikirkan oleh saya