
Iklan ini sudah saya lihat pekan lalu. Lalu dalam kolom iklan Kompas kemarin (Selasa, 9/12/2025) iklan ini masih nongol. Padahal tanggal pertunjukan sudah terlewati. Lalu siapa yang membaca iklan telat ini padahal ingin menyaksikan, terbang ke Beijing, Cina?
Sebenarnya aneh juga kalau ada iklan pertunjukan dalam iklan baris di koran. Siapa saja yang baca? Kalau iklan jual rumah dan mobil masih ada yang baca. Iklan lowongan juga, tetapi masa mau cari kerja kudu beli koran dulu?
Saya menduga konten tentang wayang milenial dan Ki Dalang Gunarto Gunotalijendro di media sosial lebih menjangkau khalayak daripada iklan baris di koran.

Sebagai arsip, iklan baris itu menarik. Pada masa jaya media cetak, iklan baris di koran, termasuk Pos Kota dan The Jakarta Post, itu menghasilkan banyak bahan bagi saya untuk menulis di desk ekonomi, sub-desk ekonomi kota. Saya telepon, jika perlu saya datangi, dan seterusnya. Ada juga yang saya lakukan dengan menugasi reporter.
Dari secuil info saya gali dan kembangkan. Orang IT di kantor dulu, sebuah koran kota, menyebut saya suka mencuri start, berita lunak untuk seminggu di server sudah saya isi karena saya tak pernah kehabisan bahan news you can use bagi pembaca.
Ada saja pembaca menelepon, misalnya seorang ibu akan memborong kompor minyak penjual di Cawang, Jaktim, akan dia sumbangkan ke korban banjir. Saat itu belum ada lokapasar daring. Pembaca lain ingin membeli saksofon bekas dengan bonus tiga kali les gratis di Pasar Rebo, Jaktim. Di kemudian hari saya tahu bahwa Ismail Marzuki sakit paru-paru setelah membeli saksofon bekas dari anggota Orkes Lief Java.
Selain iklan baris, tambang informasi saya adalah buku telepon halaman kuning, kerja sama anak usaha Telkom dengan Yellow Pages. Tak semua terang. Pengepul meterai bekas tak mau menjelaskan bisnisnya. Untuk saya temui pun menolak.
Tentang iklan baris, iklan kolom, atau classified ads, untuk koran ada dua sumber, yakni pemasang langsung dan agen. Nah, agen itu bertebaran sampai kampung, seperti penatu padahal saat itu belum ada laundry kiloan. Pada masa jaya wartel, banyak juga pelaku usaha ini merangkap sebagai agen iklan.
Adakah beda harga jualan di antara iklan baris di koran? Tarif indekos di Pos Kota dan Kompas, meskipun kamarnya sama, lebih mahal yang di Kompas. Iklan jual motor di Pos Kota lebih cepat laku, pagi si pemasang iklan masih tidur sudah didatangi pembeli, karena motor di sana dianggap lebih murah. Tarif jasa iklan pijat panggilan di The Jakarta Post jauh lebih mahal daripada koran berbahasa Indonesia. Sekitar masa krismon, jasa pijat banyak. Ada pemain langsung dan ada mami.
Istri saya menahan tawa dan takjub, pun jengah, waktu saya buktikan dengan menelepon seorang miss penyedia jasa, dan dia mendengarkan. Tarif dan ragam layanan dibicarakan tanpa sensor. Paling blak-blakan tentu mami karena bukan dia yang melakukan. Hasilnya tidak saya tulis. Tetapi saya belum pernah menghubungi pria penyedia jasa. Saya jeri.
