
Inilah kelebihan koran: bisa menampilkan ironi dalam satu pagina. Halaman depan Kompas hari ini (Rabu, 22/10/2025) menampilkan laporan utama isi CEO Forum, tentang penyiapan SDM unggul, dan di kiri bawah ada foto berita tunggal karya Agus Susanto, dengan kapsi:
Guru Anap memberi pelajaran agama kepada siswa kelas IV SDN Tegal Benteng yang sudah sebulan lebih belajar dengan menumpang di rumah warga di Desa Babakan Raden, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/10/2025). Sekolah yang berdiri sejak tahun 1983 tersebut mulai rusak berat sejak tahun 2019. Sekolah ini berjarak sekitar 70 kilometer dari Jakarta.
Kedua berita itu sama-sama menampilkan kejadian kemarin, memang begitulah berita koran cetak, namun tetap menarik di tengah pacuan berita sela (breaking news) nan cepat. Apalagi foto tersebut menunjukkan guru dan murid tertawa.

Saya membatin, mulai 2019 sekolah rusak berat, lalu mulai 2020 Covid-19 meraja sehingga bisa menjadi alasan tak memperbaiki, dan setelah pandemi usai 2023 pemda tak memperbaiki sekolah, apalagi hari ini dana transfer ke daerah berkurang. Tetapi dana MBG untuk membentuk anak-anak unggul sangat besar dan tahun depan meningkat. Itu opini saya, bukan redaksi Kompas. Orang bisa menafsirkan redaksi menata halaman depan untuk untuk mengarahkan opini pembaca.
Apakah semua koran, ketika media cetak masih berjaya, dapat menampilkan ironi di halaman depan maupun dalam? Tentu secara teoretis bisa. Tetapi setiap koran punya kebijakan editorial.
Jika dikutubkan secara esktrem, ada koran yang pokoknya menampilkan yang diinginkan pembaca dan di ujung seberang tetap ada koran memikirkan minat pembaca namun redaksi tetap perlu menunjukkan sikap dalam suatu isu, tak peduli pembaca tertarik atau tidak.
Dalam konteks macam itu, foto jurnalistik yang bagus bisa menjadi alat penyampaian sikap dan posisi diri koran secara lunak: inilah kami.
Bagaimana dengan media daring? Secara teoretis bisa namun secara teknis ribet, apalagi untuk media harian yang kontennya terus mengalir. Artinya konten yang tampak di mata pembaca itu dinamis, tak serupa koran dan majalah.

Memang sih, tampilan sajian konten dalam web dan aplikasi desktop maupun ponsel bisa dibuat sesuai minat pembaca, dengan kustomisasi, seperti dalam reader, namun efeknya tetap berbeda dari tata letak statis media lama berbasis kertas. Dalam pos “Mengapa foto berita tunggal di koran tampak menonjol?” (19/11/2024), saya menyebutkan:
Tata letak koran itu seperti foto blok kota dari udara. Terlihat keseluruhan secara sepintas, namun sekaligus tampak objek apa saja yang menonjol. Pada koran, terlihat mana yang sengaja ditonjolkan dengan perencanaan, bangunan ataukah taman. Masalahnya pembaca koran terus menyusut.
Lalu apa masalah bagi media berita daring kini? Sajian visual yang nyaman di mata pengguna ponsel, kalau bisa gratis dan tanpa disesaki iklan sembulan (pop-up ads).
Sebenarnya media daring tak harus sampai berakrobat visual yang rumit secara teknis, karena sejumlah situs berita di luar negeri yang meneruskan dan atau melengkapi kehadiran edisi cetak tetap dapat mempertahankan look and feel, atau tampilan dan nuansa, dari versi cetak — bahkan sampai ke tipografi judul seperti The New York Times.
Tantangan lain bagi media daring, seperti beberapa kali saya sebut, adalah menghasilkan foto sendiri, bukan cuma mencomot dari media sosial, hanya mengampliflikasi konten warganet, kadang tanpa mengonfirmasi ke pihak yang relevan menjawab. Asal viral diangkat.
Apa boleh buat, praktik jurnalistik sejak dulu membutuhkan biaya.

