
Saya lupa kapan pertama kali melihat air dalam kemasan cap Ron 88. Saat tahu merek itu saya langsung teringat bensin RON 88. Ya, dengan huruf kapital sebagai abreviasi untuk Research Octane Number, namun masyarakat mengucapkannya sama: ron.
Bensin dengan nilai oktan terendah adalah RON 88 (Premium dari Pertamina, untuk mesin berkompresi 9:1), lalu di atas itu RON 90 (10:1), RON 92 (10:1 – 11:1), RON 98 (11:1 – 13:1), dan RON 100 (Pertamax Racing, 13:1 ke atas). BP Indonesia mengingatkan bahwa pemilihan RON bensin harus sesuai kompresi mesin.
Sejak 2023 Pertamina tak memasarkan Premium. Namun saya memikirkan hal lain: apakah sejak dulu semua orang yang sering ke SPBU dan pengecer bensin peduli istilah RON 88 dan seterusnya? Maka saya salut kepada PT Panfila Indosari yang berani menetapkan jenama Ron 88. Saya mengandaikan tak semua orang ingat dan peduli bensin RON 88.
Saya hingga kini malah heran mengapa Pertamina selama puluhan tahun, sejak awal 1970-an, menamai bensin termurahnya Premium, padahal bensin di bawah itu tak ada? Premium selain berarti premi juga bermakna kelas tinggi sebuah produk, bisa barang dan bisa layanan.
Mungkin Anda tahu?
¬ Bukan tulisan berbayar maupun titipan

2 Comments
Dulu cuma ada premium dan solar ya, Bang Paman? Mungkin karena pengguna solar kebanyakan angkutan bus dan truk, sedangkan mobil pakai bensin, sehingga dianggap “premium” 😅
Dulu saat saya bocah selain Premium ada Super 98 dengan RON 98.
Yang bikin bingung itu sebutan solar, dulu saya gak tahu kalau itu sebutan untuk matahari 🙈🫣