
Kenapa “kemari” ditulis serangkai, sedangkan “ke sana” ditulis terpisah? Sejak saya SD guru bahasa tak pernah menjelaskan masalah ini. Padahal ada “ke sana kemari”, bukan?
Jika Anda guru bahasa silakan menjelaskan. Kata “mari” bisa berupa kata benda untuk biskuit bundar, dan dapat juga untuk partikel atau kata tugas untuk menyatakan ajakan, sama dengan “ayo”. Sedangkan “sana” adalah pronomina atau kata ganti.

Bahwa partikel lain, misalnya “pun” ada yang ditulis serangkai, seperti dalam “adapun” dan “walaupun”, tetapi ditulis terpisah untuk “apa pun”, anggap saja itu senasib dengan “kemari”. Rumit? Mari kita tinggalkan. Sekali lagi itu urusan guru bahasa. Termasuk ketika mereka harus mengajarkan bahasa Indonesia kepada orang asing. Saya ini hanyalah si gembala sapi yang merasa diri bloger.
Mungkin Pak Hadi, guru bahasa Indonesia saya di SMA dulu, benar: kemampuan berbahasa saya pas-pasan. Tetapi semasa SMA saya sudah menulis di media luar sekolah, pernah juga di Hai.
Ingatan soal bahasa itu muncul tatkala suatu malam saya berjalan kaki melewati kedai kopi Ngopi Dimari di Jalan Pasar Kecapi, Jatirahayu, Kobek, Jabar. Isi ingatan saya serupa 2019, saat blog masih saya kunci, tentang bukti bayar nasi goreng kambing Kebonsirih. Eh, Kebonsirih atau Kebon Sirih, sih? Kita diskusikan lain kali.

