
“Pak Kam, itu gaji dan tunjangan DPR kok cuma gitu berubahnya?” tanya Beno Babat saat mengantarkan elpiji.
“Embuh,” sahut Kamso.
“Tunjangan komunikasi malah naik, padahal neleponnya pake WhatsApp kan?”
“Embuh.”
“Tunjangan beras masih ada, nggak Rp12 juta lagi karena salah baca data.”
“Bagus. Itu tunjangan nanti berupa kupon, pake kertas, biar jadi artefak kata orang sekolahan. Syarat dan ketentuan berlaku. Kupon wajib dituker beras, nggak bisa diwakilkan, nukernya di pos polisi Monas.”
“Kayak rakyat kecil aja, Pak. Apa mereka nggak malu?”
“Mereka kan wakil rakyat. Soal malu, dari dulu mereka kan nggak punya, Ben.”
“Dua ratus ribu cuma dapet sepuluh kilo beras, Pak. Padahal mereka kan rakus.”
“Makan karbo banyak, gitu? Itu beras juga buat arem-arem, jadi bekal ke kantor.”
“Sebenarnya selama ini semua anggota DPR kan dapat fasilitas enak ya, Pak? Termasuk si Oneng bini Bajuri yang ayu dari partai wong cilik itu. Udah empat periode dia di DPR. Kok baru sekarang ikutan nyoal tunjangan? Atau sebelumnya udah tapi nggak direken?”
“Embuh.”
