Amuk massa dalam opini Ariel Heryanto

Kita masih membutuhkan tulisan enteng argumentatif di tengah seliweran aneka opini sambil lalu.

▒ Lama baca 2 menit

Amuk massa dalam opini Ariel Heryanto - Kompas — Blogombal.com

Apa yang ditulis Ariel Heryanto dalam Kompas hari ini (Sabtu, 6/9/2025) ini menarik namun sebagai wacana tidak baru. Maksud saya, demikianlah opini yang berkembang di sebagian kalangan masyarakat perihal demonstrasi dan amuk massa pekan lalu. Soal apa? Agenda sejumlah pihak.

Bedanya, Ariel menuliskannya secara tertata, sehingga pembaca bisa merunut alur pikiran dalam paragraf demi paragraf.

Amuk massa dalam opini Ariel Heryanto - Kompas — Blogombal.com

Hal ini berbeda dari cuitan di X, pendapat singkat dalam video, apalagi debat dalam kasus lain di YouTube yang kadang membingungkan karena satu orang belum selesai berbicara sudah dipotong, atau malah masing-masing pembicara terus ngoceh tanpa saling mendengarkan.

Memang sih bagi sebagian pemirsa, justru itu yang menarik karena sebagai tontonan lebih hidup. Bahwa inti masalah terabaikan, bukankah hidup ini sudah membuat penat, kenapa pula harus memikirkan masalah dengan serius?

Amuk massa dalam opini Ariel Heryanto - Kompas — Blogombal.com

Perang mulut Silfester Matutina dan Rocky Gerung di televisi tempo hari adalah contoh. Pemirsa puas dengan petikan adegan mirip pertunjukan TV konflik keluarga dalam studio. Tak beda dari menjadikan percekcokan tetangga sebagai tontonan dan bahan obrolan karena itu adalah bukti kepedulian sosial.

Berbicara bernas namun ringkas itu tak mudah. Tak semua orang bisa — termasuk saya. Memang sih, mereka yang berprofesi sebagai politikus maupun dosen seharusnya menguasai cara memaparkan pikiran secara lisan. Tetapi para politikus, juga pengacara, tak semuanya memuaskan. Dalam jatah waktu yang disediakan tak semuanya dapat berbicara tangkas tanpa membelokkan masalah.

Amuk massa dalam opini Ariel Heryanto - Kompas — Blogombal.com

Itulah perbedaan tuturan lisan dan tertulis. Terhadap opini Ariel, Anda boleh sepakat dan tidak. Juga, boleh puas dan tidak. Namun harap diingat, ini tulisan ringan untuk kolom koran, bukan untuk jurnal maupun makalah seminar apalagi buku.

Disebut ringan pun mungkin tak semua orang bersepakat. Tetapi hal itu menyangkut selera terhadap konten dan literasi, dalam hal ini kebiasaan terhadap tulisan, apalagi makin ke sini orang cenderung makin menyukai video. Namun harap diingat, video dan tulisan itu saling melengkapi.

Dalam kebiasaan lama, menonton televisi dan membaca koran itu saling melengkapi. Adapun tulisan, seperti dalam pelantar user generated content macam Medium dan Substack, bagi sebagian terasa kuno dan serius, dan malah memberi kesan si penulis bukannya lebih berinteraksi dengan orang lain melainkan asyik dengan pikirannya sendiri. Ya, seperti blog wagu untuk mengerem amnesia dan demensia ini. Kalau Facebook, secara asumtif, lebih memberi peluang interaktif karena itu memang merupakan pelantar jejaring sosial.

Lalu apa lagi yang menarik dari opini Ariel? Bagi saya opini ini tajam, namun Kompas yang cenderung berhati-hati ternyata memuatnya. Lain halnya jika Ariel hanya menulis untuk blognya. Atau jangan-jangan Kompas sudah berusaha melunakkan tulisan Ariel.

4 Comments

sarie Selasa 9 September 2025 ~ 14.47 Reply

Halo, kebetulan saya salah satu editor di redaksi yang mengedit tulisan tersebut di atas. Tulisan Mas Ariel utuh termuat apa adanya seperti dikirim kepada redaksi Kompas pertama kali, bahkan typo pun tidak ada. Jadi tidak ada perubahan atau upaya melunakkan apa pun. Terima kasih sudah mengapresiasi tulisan tersebut. Memang tulisan yang sangat berdaya. Tiap kata yang diletakkan tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang ornamental. Kami pun sangat kagum. Sekali lagi terima kasih.

Pemilik Blog Selasa 9 September 2025 ~ 16.05 Reply

Suwun, Mbak Sarie. Ini Sarie Febriani, bukan?
Lega saya membaca komentar Anda.
🙏💐

Rudy Sabtu 6 September 2025 ~ 08.33 Reply

Salah satu sebab yang membuat saya malas menonton acara obrolan di televisi adalah pesertanya tidak punya kemampuan untuk mendengarkan argumen pihak sebelah. Belum selesai ngomong sudah dipotong, pakai ngotot pula. Jadinya malah adu urat leher saja.

Pemilik Blog Sabtu 6 September 2025 ~ 10.38 Reply

Saya hanya menonton kalau ada sentilan soal itu, lalu tengok sumber asli di YouTube.

Di YouTube lebih menarik yang monolog atau percakapan dua orang tapi belakangan saya makin jarang karena time consuming.

Tadi malam di X saya habiskan waktu buat nonton video cekak tentang satwa, domestik maupun wild life.

Tinggalkan Balasan