
Foto di Kompas hari ini (Rabu, 3/9/2025), sebagai ilustrasi untuk berita ihwal DPR pasca-demonstrasi antarkota antarprovinsi, menarik karena ada kapsi yang memperjelas konteks:
Warga melihat-lihat Gedung DPR di Senayan, Jakarta, dari luar pagar, Selasa (2/9/2025). Kawasan ini beberapa hari terakhir terus menjadi titik unjuk rasa penolakan tunjangan perumahan anggota DPR.
Bagi saya, terhadap foto karya Rony Ariyanto Nugroho ini ada dua tilikan:
- Pertama: orang ingin melihat langsung lokasi yang sebelumnya menjadi berita nasional
- Kedua: apa yang diperbincangkan orangtua dan anak saat melihat kompleks parlemen
Untuk tilikan yang pertama, hal itu seperti dulu, setelah Kedubes Australia di Kuningan, Jaksel, dibom (2004). Sampai hampir tiga pekan pasca-peristiwa warga masih datang menjenguk, bahkan pada malam hari. Mereka naik motor, ada yang membawa anak. Mereka ingin membuktikan apa yang ditunjukkan oleh televisi.
Sebenarnya hal ini biasa, karena di wilayah terdekat pun saat terjadi bencana alam, misalnya tanah longsor, warga dari luar lokasi, bahkan yang jauh, berdatangan untuk melihat. Dalam era ponsel berkamera dan media sosial, berswafoto itu wajib.
Bahkan ketika warga lokal korban bencana sedang kerepotan mengatasi masalah, para pelancong atas nama jurnalisme warga itu menjadikan aktivitas orang lokal sebagai latar foto dan video. Maka di sebuah tempat bencana warga lokal memasang maklumat bahwa areanya bukan tempat wisata.
Kebiasaan itu dibawa yang mulia anggota dewan Uya Kuya beserta keluarga di Los Angeles, Amerika: membuat konten di depan rumah korban kebakaran kawasan, Januari lalu. Pemilik properti, yang tak tahu siapa Uya, itu kesal dan menegur. Dalam video versi pengunggah, keluarga Uya terkesankan kurang respek kepada penegur.
Lalu tilikan kedua, perihal topik perbincangan keluarga penjenguk DPR? Tentu saya tak tahu. Saya hanya dapat berimajinasi alias mengarang.
Anak: “Napa kemarin banyak orang dateng ke sini lalu digebukin polisi, Mak?”
Emak: “Gara-gara orang yang di dalem gedung itu menghina rakyat, mentang-mentang udah kaya digaji pemerintah, Dul.”
Anak: “Kok bisa gitu? Apa mereka dulu nggak diajarin soal akhlak, Mak?”
Emak: “Nggak tau. Kata orang nih, sebagian dari mereka yang di dalem itu dulunya orang biasa, malah susah, kayak kita dan tetangga kita, Dul.”
Dalam obrolan keluarga lain, yang sekeluarga datang berempat menjenguk gerbang area gedung DPR, terdengar suara seorang bapak dalam dialek Jawa, “Lha ya ini tempatnya para kéré munggah balé. Kéré lho, bukan kirik.”

4 Comments
Selain kepo juga fomo, takut ketinggalan, bahkan ada suatu kebanggaan bisa terlibat dalam peristiwa penting walaupun nggak secara langsung. Sisi positifnya, makin banyak yang tahu masalahnya, makin bagus. Setidaknya (semoga) nggak asal nyoblos lagi pas pemilu nanti
Sepakat Mbak Mpok 👍👏
Jadi ingat waktu ada peristiwa tembak menembak dan bom, masyarakat malah nonton. Benar-benar haus hiburan ya.
Mungkin haus hiburan, mungkin juga tidak. Sudah menjadi naluri manusia untuk selalu kepo. Namun masalahnya, media berita sebagai wakil publik belum tentu memuaskan, dan medsos sebagai media publik dianggap simpang siur, sementara keterangan pihak berwenang dari pemerintah tak dipercaya.
Dari sisi lain, kunjungan warga adalah bukti kepedulian sebagai bagian dari sejarah yang sedang menulis dirinya sendiri.