Publik menilai buruk DPR, tapi nanti nyoblos lagi

Nafa, Sahroni, Eko, dan Uya adalah orang pede dan tangguh, tapi tak tahu diuntung dan tak tahu diri.

▒ Lama baca 2 menit

 Sampel legislator busuk: Nafa Urbach, Ahmad Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya — Blogombal.com

Apakah semua dan setiap orang dalam 580 anggota DPR itu busuk, menghamba duit tanpa peduli kepatutan, dan suka pamer? Apakah semuanya berperilaku mengesalkan, yang korup maupun lurus bersih?

Tentu tak semua legislator itu menyebalkan. Dari ratusan orang itu tak semuanya terekspos, maka orang yang cuma duduk manis pun belum tentu beres, tetapi mereka yang vokal, suka ngoceh di luar sidang, belum tentu genah.

Termasuk dari mereka adalah yang tertidur maupun abai sopan santun rapat dengan asyik memainkan ponsel untuk hal tak penting, namun karena jarang terpaparkan oleh media maka kita tak tahu kwalitet daripada mereka.

Nafa Urbach, Ahmad Sahroni, Eko Patrio, dan Uya Kuya mungkin bukan sampel yang representatif dari populasi anggota DPR. Tetapi kekesalan khalayak bukan soal statistik. Ini soal persepsi, dengan konteks kesebalan dan kegeraman publik berdasarkan kasus aktual, sehingga bisa penting bisa tidak.

Pokoknya kalau citra DPR kadung buruk, jauh sebelum ada demonstrasi dengan segala eksesnya, mereka harus sejak awal tahu diri dan mawas diri. Bukan bikin bantahan, apalagi disusul klarifikasi dan permintaan maaf, melainkan senantiasa menjaga mulut dan lagak di media sosial.

Infografik Sentimen negatif terhadap DPR - Kompas — Blogombal.com

Hasil analisis Litbang Kompas yang dipublikasikan pekan lalu (Jumat, 29/8/2025) menyatakan sentimen negatif publik terhadap DPR tinggi, hampir 90 persen, terutama jika menyangkut gaji dan tunjangan. Tetapi itu hanya penilaian warganet selama 16–26 Agustus 2025. Bagaimana persepsi warganet tentang DPR secara umum pada 2029 entahlah. Amnesia publik, dengan maupun tanpa media sosial berikut pengerahan pendengung (buzzers) bayaran, adalah kajian menarik.

Status anggota DPR itu melekat hingga di luar hari dan jam kerja. Ini bukan rumusan baku tertulis, melainkan apa yang ada dalam benak rakyat. Hanya anggota DPR yang dapat menjaga martabat mereka. Kalau satu orang anggota DPR busuk, sehingga mencemarkan korps, semua temannya harus minta maaf kepada rakyat sambil menghujat dan mengutuk si busuk. Kilah “Itu kan dia, bukan saya” tidak berlaku. Mereka diupah oleh rakyat. Tidak pantas cuci tangan.

Meskipun demikian, ada sisi bagus di mata saya dari empat sampel anggota DPR yang bermasalah. Sebagai manusia, Nafa itu dari dulu ayu, bisa dandan. Sahroni well groomed, potongan rambut kumis jenggot rapi, gigi putih rapi terawat, selalu well dressed, enak dilihat, pokoknya fully fashionable. Eko tetap fit dan slim, fashionable, awet muda, lincah, berbeda dari dua temannya di Patrio. Uya sangat pede dalam penampilan sejak sebelum menjadi politikus, bukan hanya dengan jambul berwarna. Misalnya dia nobody bisa jadi bahan tertawaan, “Lu punya masalah apa, sih?”

Lebih dari semuanya tadi, mereka berempat adalah orang-orang yang sudah jadi, apa adanya sebagai diri seperti citra yang mereka bentuk sejak dulu, sehingga setelah masuk parlemen mereka merasa tak perlu mengubah diri. Ibarat kata, “Dari dulu gue gini, napa mesti bikin pencitraan baru?” Namun itu menjadi bumerang.

Lalu? Di luar empat sampel menyebalkan itu, ada hal yang mendasar. Siapa pun calegnya, dan apa pun partai pesertanya, kenapa kita setiap kali pemilu ikut mencoblos? Karena punya harapan, bahkan optimisme, bahwa keadaan bisa diperbaiki. Kita itu termasuk saya.

Kini saya merenungkan kata-kata Firdaus Oibowo, pendiri Ternak Mulyono, bahwa simpanse lebih cerdas daripada keledai karena keledai bisa dua kali terperosok ke lubang yang sama.

Kalau memuja Mulyono, sekali dan selamanya, itu belum dua kali, baru sekali kejeblos lubang. Bahkan misalnya kemudian kapok, itu belum menjadi keledai maupun kedelai. Tetapi kalau dua kali memilih Mulyono, dan lebih dari sekali nyoblos pileg, itu memang keledai, setidaknya bagal — hasilnya persilangan keledai dan kuda.

2 Comments

Junianto Senin 1 September 2025 ~ 19.12 Reply

Sebagian orang mencoblos karena dibayar….

Pemilik Blog Selasa 2 September 2025 ~ 14.35 Reply

Menyedihkan. Tapi ya gimana lagi

Tinggalkan Balasan