
Foto Kompas.id kemarin memang biasa. Dalam situasi saat ini, penyebutan ACAB (all cops are bastards) tersebar di mana-mana, termasuk di Kobek, Jabar. Kapsi foto ini:
Pengendara sepeda motor melintasi mural yang mengkritisi kinerja Polri di Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (1/9/2025).
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Ada hal yang menggelitik keingintahuan saya, karena mural tersebut rapi, dikerjakan dengan cat tembok, kalau dilakukan satu orang tak cukup sejam. Jadi, kapan mural pada tembok pagar lahan kosong itu dibikin, apakah jauh hari sebelum demo di Bekasi pekan lalu?
Hal itu berbeda dari grafiti dengan cat semprot di halte Senin dalam foto Kompas.id (30/8/2025). Lebih lekas pengerjaannya, bahkan di tengah demonstrasi.

Jika mural di Kobek sudah lama, kenapa polisi membiarkan? Memang sih, grafiti dan mural atas nama seni rupa jalanan itu urusan satpol PP. Tetapi polisi bisa mengadukan ACAB ke pemkot. Atau jangan-jangan sebelum demo ricuh di mana-mana pekan lalu, antarkota antarprovinsi, tak semua polisi paham ACAB maupun penyandiannya, yakni 1312, dari urutan posisi huruf dalam alfabet? A adalah huruf pertama, C adalah huruf ketiga, B huruf kedua.
Kalau diterjemahkan, ACAB itu sarkastis. Jangan-jangan setelah tahu arti ACAB, polisi bisa melakukan apa saja terhadap pemakai kaus bertuliskan ACAB. Sudah risiko polisi kalau dikritik bahkan dicela, dihina, karena citra korpsnya sedang terpuruk parah. Harus legawa. Memang tak adil, dalam situasi buruk yang berlaku adalah when you do right no one remembers, when you do wrong nobody forgets. Bukankah tidak mungkin polisi salah melulu sepanjang zaman?
Itulah perlunya komunikasi publik yang efektif, membarengi perbaikan tubuh Polri.

2 Comments
Mural yang bagus dan warnanya menarik, ada merah putih.
Yeah, kasar sih ada ikon jari tengah 🙈