Titian atawa wot penakar nyali anak

Jembatan kecil sempit adalah tantangan bagi setiap anak. Kalau bagi orang tua bagaimana?

▒ Lama baca 2 menit

Wot atawa jembatan atawa titian Griya Asri Taman Mini — Blogombal.com

Di sebuah perumahan di Jatimakmur, Pondokgede, Kobek, Jabar, ada titian selebar setengah meter untuk memintas jarak, agar orang tak perlu memutar ke jembatan lebih lebar yang lebih jauh. Melihat titian itu, sambil mengayun langkah, ingatan saya ke mana-mana.

Yang langsung hinggap di benak setiap kali melihat titian kecil adalah kata wot. Kata wot terasa arkais, tak semua orang yang sebaya saya tahu kata itu. Dunia seni Indonesia mencatat dua wot dalam karya. Pertama, naskah drama Yudhistira A.N.M. Massardi (1954—2024) Wot atawa Jembatan (1977). Kedua, Wot Batu, karya instansi perupa Sunaryo di Bandung, Jabar (2015).

Sore saat saya memotret wot itu tak ada anak melintas. Saya membayangkan, anak-anak berani melintas, bahkan dengan berlari, tanpa memegang pagar titian.

Tentang keberanian dan sekaligus keseimbangan diri anak, saya sering melihatnya. Waktu saya bocah, kalau berjalan kaki, termasuk sepulang sekolah, kadang meniti tonjolan panjang di jalan. Kadang ada orang dewasa yang tak saya kenal mengingatkan, “Ati-ati lik, cah bagus.” Saya berani karena di bawahnya bukan kali.

Kalau di bawahnya kali, saya tak berani. Sampai kini masih teringat ketika saya, dalam usia enam tujuh tahun ngeluyur sendiri, hanya termangu ragu di pinggir kali yang lebarnya tak sampai tiga meter namun dalamnya tiga meter lebih sehingga saya menyebutnya jurang. Itu sambungan Kali Ngipik di Sinoman, Salatiga, Jateng. Kali itu membelah ladang.

Saya tak berani melewati wot berupa dua gelugu yang dijejerkan itu. Tetapi anak-anak perempuan di kampung itu enak saja melintasi wot sambil berlari. Ada yang sambil membawa bakul kecil berisi cucian. Saya ngeri.

Setelah saya tua, kengerian terulang karena melihat foto jurnalistik karya Fakhri Fadlurrohman di Kompas (Juli, 2024). Seorang bocah laki meniti patok deretan bambu.

Bocah pemberani - Kompas — Blogombal.com

Dalam pos itu saya ceritakan kengerian saya pada 1990 meniti balok kayu dari dermaga ke kapal kayu, di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakut. Dua teman yang bersama saya saat itu adalah fotografer Itta Wijono dan kamerawan German G. Mintapradja, keduanya kemudian menjadi suami istri, kini sudah berpulang ke rahmatullah. Itta dari dermaga memotret saya meniti balok bergoyang, turun dari kapal. Mereka tertawa-tawa.

Kini jangankan wot, untuk menuruni tangga saja saya harus dekat pegangan, supaya saat keseimbangan oleng karena efek vertigo menggamit, ada yang saya pegang atau dinding yang dapat menahan telapak tangan.

Untuk anak kecil, kemampuan meniti bisa dilatih. Maka di setiap halaman bermain TK ada titian. Waktu anak saya belum masuk TK, dia sering saya ajak meniti wot selebar 40 cm, dari dua lembar papan tebal, di atas kanal dangkal dekat rumah.

Suatu kali saya di belakangnya, meniti wot itu, namun baru sepertiga jarak saya melepaskan tangan dari pundaknya dan berhenti. Dia terus berjalan. Sesampainya di seberang dia menengok, ternyata saya masih di titian, berdiri. Dia kaget, ketakutan, hampir menangis, “Bapak….”

Saya bilang, “Kamu hebat, pinter, tuh bisa nyeberang.”

Cara serupa saya terapkan saat mendampingi si bungsu belajar naik sepeda. Dia saya lepaskan, namun dirinya tak sadar, dan ketika sadar bapaknya tak memegangi sepeda, dia pun panik, ketakutan.

9 Comments

@sandalian Senin 4 Agustus 2025 ~ 12.28 Reply

“Wot”, sudah lama saya tidak dengar/baca kata ini.

Kalau kecil/sempit begini namanya wot, kalau agak lebar namanya reteg/kreteg.

Pemilik Blog Senin 4 Agustus 2025 ~ 14.28 Reply

Nggih, leres 😇
Untunglah parit kecil dangkal cukup dua tiga bambu besar.

Rudy Minggu 3 Agustus 2025 ~ 12.34 Reply

Keseimbangan saya sudah payah. Naik turun tangga sudah harus berpegangan. Untuk menyeberang dengan tempat pijakan sempit tanpa pegangan, saya sudah tidak berani. Entah bagimana nanti klau harus menyeberang melalui titian serambut dibelah tujuh.

Pemilik Blog Minggu 3 Agustus 2025 ~ 18.07 Reply

Mari bersalaman. Yang penting sekarang kita bisa berjalan-jalan di area kita 🙏🌹

Ndik Minggu 3 Agustus 2025 ~ 11.25 Reply

Sampai kelas 4 Saya Masih mbrangkang entah diatas bambu atau mbrangkang nggantung dibawah bambu tiap ada Tugas Titian Pring di pelajaran penjas. Meski saat itu sudah penekan wit jambu Dan mangga punya tetangga.

Beda rasa ketika tangan memegang Dan tangan krambyangan untuk menjadi penyeimbang.

Titian Dari bambu Masih umum di sekolahan sd nggak om?

Ndik Minggu 3 Agustus 2025 ~ 11.24 Reply

Sampai kelas 4 Saya Masih mbrangkang entah diatas bambu atau mbrangkang nggantung dibawah bambu tiap ada Tugas Titian Pring di pelajaran penjas. Meski saat itu sudah penekan wit jambu Dan mangga punya tetangga.

Beda rasa ketika tangan memegang Dan tangan krambyangan untuk menjadi penyeimbang.

Titian Dari bambu Masih umum di sekolahan sd nggak om?

Beda penekan dengan Titian, pene

Pemilik Blog Minggu 3 Agustus 2025 ~ 18.01 Reply

Kayaknya sekarang latihan macam itu digantikan besi las, lebih awet. Di beberapa tempat ada latihan panjat tebing untuk anak. Tapi saya gak tahu apakah dalam kepramukaan SMP ada latihan menyeberang kali dengan konstruksi bambu berbentuk A dan tambang.

Soal lain, meski kadang mengesalkan, kini jarang terlihat anak mengejar layangan dengan keterampilan panjat tembok.

Tinggalkan Balasan