
Setelah disodori cerpen berbahasa Inggris, para-para murid SMA mengeluh kepada guru bahasa Inggris. Misalnya, “Sir, too many words.” Atau, “Artinya apa sih, malas buka kamus.”
Itulah paparan Sri Haldoko, guru bahasa dan sastra Inggris SMAN 2 Brebes, Jateng, dalam artikel “Anak-anak yang Tak Lagi Bisa Membaca Dunia” (Kompas, Senin 21/7/2025 — kliping di sini).
Bahasa Inggris saya buruk. Alasan pembenar yang mengada-ada: karena di SMA dulu saya bukan di jurusan bahasa, melainkan IPS, lagi pula saat itu tak ada jurusan bahasa. Bahwa teman yang di IPA pintar berbahasa Inggris, mohon jangan Anda persoalkan. Demikian pula teman lain di IPS. Bahkan nilai bahasa Indonesia saya pun pas-pasan.
Menarik jika guru menulis di media berita dengan seleksi ketat. Tempo hari, Ashlihatul Hidayat, seorang guru SD, juga menulis di Kompas. Kepingan masalah pendidikan menguar dari tuturan orang dalam dalam tuturan tertulis.
Belajar dari lirik lagu
Soal bahasa Inggris, dulu saat bersekolah saya belajar dari lirik lagu. Belum tentu memahami artinya secara harfiah, misalnya pun agak mengerti saya tak tahu maksudnya. Lirik “Stairway to Heaven” (Led Zeppelin), “Bohemian Rhapsody” (Queen), dan “Firth of Fifth” (Genesis) membuat saya bingung. Itu hanya contoh. Ralat: hampir semua lirik lagu Barat (maksud saya Inggris) tak saya pahami.
Untunglah dulu di Topchords, majalah tipis seukuran buku tulis, terbitan Salatiga, Jateng, ada rubrik Musik dan Apresiasi. Pengisinya adalah Ariel Heryanto, masih mahasiswa UKSW. Saya lupa apakah Bre Redana, namun dengan nama lama, juga menulis.
Ariel pernah menjelaskan lagu “Wuthering Heights” (Kate Bush, ternyata dari novel Emily Brontë) serta “San Fransisco” (Scott McKenzie). Konteks lagu dipaparkan di sana.
Berilah cerita menarik, kalau bisa jenaka
Di SMA, dengan bahasa Inggris buruk, saya bisa memahami kisah ringkas dari bacaan. Misalnya sejarah jin dan denim, tentu dengan menyebut Levi Strauss. Bagi saya cerita macam ini menarik dan mbois. Apalagi SMA saya membolehkan gondrong, kancing atas baju mbledhèh, seragam hanya Senin, kemudian ditambahkan Sabtu.
Mahasiswa UKSW yang jadi guru praktik bahasa Inggris juga kerap membawa kertas cerita. Saya ingat kertas cerita dari seorang mahasiswi cantik, tentang para penerbang angkatan udara.
Setiap pagi satu skuadron melintasi pantai, terbang dalam formasi V. Sang ketua tim adalah pengantin baru. Setiap pagi pula istrinya berjemur di pantai, dan saat pesawat melintas di udara dia akan melambaikan skarf.
Kalau pesawat terdepan — ya, suaminya — memiringkan sayap ke kiri berarti nanti malam pulang, begitu pun sebaliknya kalau miring kanan berarti tidur di lanud.
Suatu pagi sang suami memiringkan sayap ke kanan. Pesawat lain spontan memiringkan sayap ke kiri. Cerita selesai. Saya ngakak.
Saat kuliah, dalam buku cerita guru bahasa Inggris ada cerita tangsi. Seorang sersan galak, dalam apel para kroco anyaran, akan menanya nama setiap orang, dan membuka upacara dengan sesorah khas: “My name is Stone, and I am harder than stone!”
Giliran prajurit kesekian, dia tampak gemetar untuk menyebutkan nama. Setelah dihardik keras, dia menjawab lirih, “Yes Sir… My name is Stonebreaker…”
Sekarang bagaimana?
Kesan saya sih anak-anak sekarang lebih cas-cis-cus berbahasa Inggris, pokoknya endeskrai endeskrol, lutmaindut yumaerong. Lirik lagu mudah didapatkan. Semua teks digital berlimpah, termasuk yang erotis.
Tetapi Pak Guru kita menulis seperti dalam gambar di bawah ini:

Pak Guru juga menyatakan,
Rasa malas terhadap kamus bukan sekadar soal teknologi, karena ada banyak kamus daring, kamus visual, bahkan fitur translate otomatis. Masalahnya lebih dalam, yaitu tidak ada keterhubungan emosional antara kata dan jiwa. Mereka tidak sedang belajar bahasa. Mereka hanya sedang melewati teks.
Saya berharap dalam bahasa Indonesia tak terjadi. Namun hanya berharap dan akhirnya prihatin. Kata yang tak dipahami pembaca berita akan diabaikan, misalnya “tepermanai”, atau misalnya ingin tahu malah bertanya di media sosial, padahal kata tersebut ada dalam KBBI.
Seorang kawan, bukan bekas jurnalis, mengeluhkan bahasa media berita, “Apa wartawan yang bahasanya buruk, dari media tanggung, nggak pernah baca media lain yang bahasanya bagus? Apa mereka jarang baca buku?”
Saya menyangkal. Dia hanya bertanya atau sekalian menghina?

5 Comments
Media sosial dan aneka app memenuhi waktu luang yang dulu bisa dipakai untuk membaca, Bang Paman. Akibatnya banyak murid yang kesulitan memahami soal cerita. Makanya saya girang banget waktu tempo hari ponakan SMP pinjam beberapa buku. “Harimau! Harimau!” dibacanya dalam waktu 2,5 jam, jauuuuh lebih cepat daripada budenya 😀
Wow! Karya Mochtar Lubis yang itu. Pak Mochtar juga bikin cerita anak Judar Bersaudara, kalo gak salah saduran
Pada saat SMP, Bahasa Inggris saya buruk. Saya lebih sering tidak hadir di kelas pada saat pelajaran Bahasa Inggris. Alahasil, saya diberi nilai 4 di buku rapor. Waktu SMA nilainya sedikit lebih baik, itu karena saya tidak bisa minggat dari kelas.
Nilai pernah 4 tapi akhirnya ambil master di Inggris, lalu bekerja di badan-badan internasional kan? 😇👏👍
Hahaha…saya belajarnya dari lagu, film (terutama serial Blackadder) radio BBC dan dari peneliti asing yang saya ikuti kala libur kuliah.
Ini kometar ditulis sambil menikmati album Graceland Paul Simon dan Ladysmith Black Mambazo.