Gaya jadul: Bungkus rokok sebagai dekorasi jendela

Bukan warung kok memasang bungkus rokok, kosong pula.

▒ Lama baca < 1 menit

Poskamling Singgalang Patria, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Nyanyian burung kakatua hinggap di jendela itu tak berlaku bagi sebagian perokok pada abad lalu, di rumah keluarga maupun indekos. Bagi mereka, yang layak menjadi tabir jendela kaca adalah tumpukan bungkus rokok. Ternyata hari ini masih ada gaya dekorasi macam itu.

Saya melihat gaya itu di sebuah poskamling dekat sebuah taman di suatu kompleks. Ada bermacam merek bungkus rokok, ditumpuk tak beraturan. Estetika memang bahan perdebatan tak berkesudahan. Lalu agar tak terlalu melebar, ada pendekatan konteks sosial dan zaman.

Dulu jendela kaca merangkap lubang ventilasi di bagian atas tembok kamar sering menjadi kotak galeri bungkus rokok. Saya tak paham apa maksudnya maupun di mana sisi kebanggaan si pemasang.

Mungkin Anda dapat menebak apa alasan para pemasang bungkus itu, dulu maupun terlebih-lebih kini, ketika harga rokok mahal?

Poskamling Singgalang Patria, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

2 Comments

Ndik Rabu 25 Juni 2025 ~ 20.13 Reply

Ini iseng, Sampai Hari Ini saya kadang Masih eman2 mbuang bungkus rokok. Dari kos2an disemarang sampai kontrakan kalibata dulu, angin2 Sampai full ketutup bungkus rokok.

Kapan dibuang? Kalau sudah nggak karuan Dan tidak ada tempat Baru Lagi untuk menaruh bungkus yg Baru.

Sekarang pake kaleng, awalnya masih berdaya Guna untuk baut sekrup koin receh atau kadang diminta tetangga yg punya warung untuk koin atau ngecer rokok.

Kapan kalengnya dibuang? Kalau sudah penuh juga, tinggal dikreseki secukupnya Dan ditaruh ditempat yg terlihat, langsung ada yg ngopeni.

Jangan Tanya eman2nya kenapa, Kita semua punya bakat nyusuh, yg membedakan hanya yg disusuh apa

Pemilik Blog Rabu 25 Juni 2025 ~ 20.22 Reply

Nyusuh! Yes 😂😂😂👏👏👏👍💯

Tinggalkan Balasan