Tiang besi warisan Belanda

Untunglah Stasiun Tugu, Jogja, dipertahankan. Tetap antik terawat.

▒ Lama baca < 1 menit

Tiang besi bikinan L.J. Enthoven di Stasiun Tugu Yogyakarta 1886

Di ruang tunggu Stasiun Tugu, Yogyakarta, tegak berdiri tiang besi warisan kolonial. Saya tak tahu warna asli tiang yang diapit sofa itu dulu bagaimana, dan tak ingat apakah sebelum restorasi warna cagak ini cokelat ataukah abu-abu. Warna yang sekarang mengingatkan tema warna Karaton Jogja.

Tercetak dalam huruf timbul pada tiang: L.J. Enthoven & Co. ‘s Hage 1886. Nama sebelum tarikh itu berarti Den Haag, Nederland. Nama lengkapnya ‘s-Gravenhage, dibaca “de-skhra-vên-ha-khê”. Agar mudah diucapkan dan ditulis jadilah Den Haag, dibaca “dèn-hakh”, dan dalam versi Inggris adalah The Hague. Ya, serupa Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi Yogyakarta, Yogya, lalu Jogja.

Pada masanya perusahaan pengecoran logam Enthoven berjaya di negerinya dan negeri jajahan. Beberapa arsip menyebutnya L.J. Enthoven dan ada pula L.I. Enthoven. L.I. adalah abreviasi Lion Israel, kemudian menjadi Leo John agar tak berbau Semit, disingkat L.J.. Warisan di sini antara lain pabrik gas lampu di Ketapang (Jalan Zainul Arifin), Jakbar, yang kemudian menjadi Perusahaan Gas Negara (PGN), dan dok kapal di Tanjungpriok.

Di Negeri Belanda, semua bus surat atau brivenbus adalah buatan Enthoven. Belum jelas apakah kotak surat serupa, demikian pula pelat besi tutup drainase, pada zaman Hindia Belanda juga bikinan kompeni yang gulung tikar, bukan gulung pelat baja, pada 1975 itu.

Tiang besi bikinan L.J. Enthoven di Stasiun Tugu Yogyakarta 1886

Tinggalkan Balasan