Markas semut

Semut itu gigih. Setelah diusir akan kembali lagi. Kalau dibasmi? Akan muncul koloni pengganti. Kita mesti tawakal dalam berikhtiar.

▒ Lama baca < 1 menit

Semut punya sarang. Kalau dalam rumah biasanya di celah atau nat antarubin lantai. Atau celah pertemuan sudut tembok dan lantai. Atau lubang di tembok. Makanan mereka bawa ke koloni. Ada ratu di sana. Maka guyon jadul setelah menyebut teman cewek seperti ratu, setelah jeda baru ditambahi “lebah” atau bisa juga “semut”.

Dalam gambar tampak ember berisi air dan ciduk. Itu untuk mengguyurkan air tanpa campuran apa-apa ke lubang yang saya masuki serbuk Shock, semacam Plong, yang biasa dipakai untuk mengatasi saluran mampet wastafel dan shower tray. Menuangkan Vixal ke liang juga bisa. Kalau Bayclin? Asal tak ada logam bisa, karena pemutih pakaian itu bikin korosi. Tapi begitu situasi aman, ketiga jenis semut akan kembali lagi. Oh ya, jangan lupa, semut itu kanibal. Bangkai semut, yang merupakan rekan sekerja dan berbagi rasa, bahkan mungkin separtai, pun mereka makan.

Cara lain, seperti saya tulis, menggunakan campuran air dan cuka dapur. Untuk celah kecil ya pakai pakai botol bekas Clear atau beli khusus botol yang ada pompanya. Tapi cuka kurang bengis, hanya membuat semut menjauh. Setelah kadar cuka melemah ya semut muncul lagi. Mungkin bikin sarang baru. Saya belum pernah mencoba korek gas model las. Mungkin mujarab.

Ember berisi campuran cuka dan air juga lumayan untuk bikin kucing tetangga tidak mengulangi ritual, berak di zona kita, tapi sayang hanya sementara. Begitu hujan turun, guyuran bau cuka di titik berak pun luntur.

Jadi kenapa saya mengusir semut pakai cuka sebetulnya biar hemat, karena memanfaatkan penggguyur jejak tahi kucing. Pakai cuka sebetulnya juga bukan jaminan efektif. Kalau telaten bertengkar, ya tegurlah tetangga pemiara kucing untuk mengajari anak asuhnya.

Masalahnya, kucing yang sulit diatur itu belum tentu milik tetangga dekat. Bisa juga kucing liar yang selalu diberi makan oleh tetangga yang tak di dekat kita, tapi si kucing suka ngelencer cari lawan jenis, antar-RT, antar-RW, belum sampai ke taraf AKAP. Kalau di wilayah terluar Indonesia — eh, terdepan ding — mungkin kucing mencari pasangan lintas perbatasan.

4 Comments

soloskoy Minggu 12 Desember 2021 ~ 12.40 Reply

Betul, paman.

Sy pun on eh mood terus sekarang. Hanya, mood itu sering bentrok dengan pekerjaan domestik atau bongso kulakan.🙈

Tapi ya gpp, wong ngeblog itu bukan pekerjaan untuk cari duit, kok. 🏃🏃🏃

Antyo® Minggu 12 Desember 2021 ~ 13.35 Reply

Sepanjang ingat dan sempat (atau sebaliknya) tanpa mengenal tenggat.
Itulah kredo saya.
Rada kemaki mungkin 🙈🙊

soloskoy Minggu 12 Desember 2021 ~ 09.51 Reply

Beberapa hari terakhir ini bukan semut (dan kucing tetangga) yg saya perangi tapi tikus (lagi).

Mereka tiap hari (tdk hanya malam) kluthak-kluthek di dapur, tapi kalau langsung disamperi bak mampu menghilang. Mereka bukan celurut, dan sulit dijebak pakai lem tikus.

Tadi malam mungkin apes mereka : satu terjebak dalam tempat sampah bertutup yg tiap hari sy taruh di dapur, dan satunya makan umpan di atas papan lem tikus, lalu kelet.

Mungkin kali ini umpan saya manjur, krn berupa potongan daging steak sapi sisa makan malam saya😬

Waduh, mestinya ini saya jadikan bahan ngeblog saja, ya, Paman😁

Antyo® Minggu 12 Desember 2021 ~ 11.57 Reply

Perang melawan tikus itu seperti melawan koruptor: tak pernah usai.
BTW di tangan blogger yang sedang mood, apapun bisa jadi konten. 🤣

Tinggalkan Balasan