Sarung tangsi, loreng taktis

Pakaian militer memberi kesan gagah, setidaknya bagi orang sipil yang mengenakannya. Apakah komersialisasi atribut TNI sudah berizin?

▒ Lama baca 2 menit

Sarung tangsi, loreng taktis, hahaha — Blogombal.com

Mulanya saya tak memercayai mata saya. Kemudian saya menggugat persepsi saya. Masa sih ada sarung printed dengan motif tenun dan tactical?

Sebelumnya, di rumah sakit itu, saya melihat sarung termaksud dari jarak sekira sepuluh meter. Si pria berkopiah yang bersarung, dengan istri dan dua anak, cepat menghilang di balik pintu lorong.

Eh, saat saya ada keperluan ke ruang lain, di depan lift saya melihat lagi pria itu, yang bersarung loreng dan berompi. Padu padan yang aneh. Dahulu kala, saat saya masih remaja, kakak teman saya menyebut rompi sebagai klambi Gareng. Padahal dia juga punya. Saya lupa itu rompi fotografer atau rompi memancing. Ehm, apa perbedaannya saya juga nggak tahu ding. Ketika menjadi orang setengah lapangan, saya tak punya rompi.

Sarung tangsi, loreng taktis, hahaha — Blogombal.com

Setelah dekat, saya amati motif sarung itu. Untuk yang tenun, saya meyakininya. Tetapi untuk yang loreng militer, saya sangsi. Dalam persepsi saya, tak ada pernak-pernik tactical berupa sarung. Kalau ponco itu lazim.

Akhirnya saya cari tahu di lokapasar. Ternyata banyak yang menjualnya. Mungkin hanya di Indonesia ada sarung loreng. Saya tak tahu apakah di negeri Asia lain yang bersarung, terutama Myanmar yang dibekap junta militer, juga ada sarung tactical.

Karena sarung ala tentara dan Brimob dijual untuk umum berarti siapa pun boleh mengenakannya. Saya tak tahu apakah semua itu seizin TNI. Wajar jika TNI, juga Polri, pernah merazia jaket yang digunakan oleh orang di luar korps. Memang sih di Senen, Jakpus, dari sabuk, tanda pangkat, hingga baju seragam sampai topi TNI dan Polri dijual bebas.

Lalu? Saya mencoba mengingat-ingat atribut militeristis apa yang pernah saya miliki, terutama dengan tema visual taktis kamuflase. Tampaknya tidak ada.

Sarung tangsi, loreng taktis, hahaha — Blogombal.com

Kalau celana tentara, saya pernah punya. Saat masih kuliah saya mendapatkan celana kargo hijau tua polos, bukan hijau zaitun, dari kerabat saya yang menerima hibah. Pinggangnya terlalu besar untuk saya, namun pipa celana cingkrang, di atas mata kaki. Hanya saya pakai di rumah, celana saya gulung. Untuk pinggang, tali saya kencangkan. Walhasil pinggang seluar itu ada rimpelnya. Wagu.

Sarung tangsi, loreng taktis, hahaha — Blogombal.com

Karena saya suka iseng, dengan alat cetak saring yang ada di rumah saya sablonkan tulisan bertinta vinyl putih, menggunakan fon Gill Sans* tebal dari Rugos, pada tutup kantong di paha kiri: Popular Front for the Liberation of Palestine. Disingkat PFLP, itu adalah organisasi paramiliter di luar PLO pimpinan George Habbash (1926–2008). Yah, buat gagah-gagahan. Snob. Saya tak tahu apakah edisi asli, misalnya ada, memakai aksara Arab. Saat itu belum ada internet.

Kenapa PFLP? Saya tak mau seperti anak kampus seni di Gampingan, Yogyakarta, yang menyablon kausnya dengan teks Haganah, tanpa teks Ibrani. Saya bukan bukan pendukung Zionisme.

*) Di kemudian hari saya tidak mau menggunakan fon Gill Sans yang pernah saya pakai untuk mendesain buku Koin Keadilan. Tentang boikot terhadap Gill Sans, lihat arsip “Pedofilia kreator fon Gill Sans” (2022).

One Comment

mpokb Jumat 17 Juli 2026 ~ 09.17 Reply

Batik motif militer yg belum ada 😃
Kalo buat daster, gimana, Bang Paman?

Tinggalkan Balasan