Pembocoran surat dan sanksi bagi pegawai PU

Pegawai didukung warganet dan pengacara menggugat secara hukum juga belum tentu menang. Cuma menang secara moral.

▒ Lama baca < 1 menit

Pembocoran surat pejabat pemerintah apakah selalu salah? — Blogombal.com

“Bener ya Mas, ada beberapa pegawai PU kena sanksi, sampai ada yang dimutasi ke luar pulau, gara-gara surat rencana perjalanan menterinya bocor di medsos?” tanya Kamsi, selagi ngeteh pagi.

“Nggak tau. Masih rumor. Kementerian PU belum mengonfirmasi, eh belum mengklarifikasi. Setahuku gitu, Jeng,” sahut Kamso.

“Misalnya bener, kesian mereka ya, Mas. Padahal mereka berjasa bagi masyarakat yang mengongkosi negara dan pejabat.”

“Hehehehe….”

“Jadi sebenernya gimana masalah pembocoran surat ini, nggak cuma di PU?”

“Pada prinsipnya, di kantor pemerintah maupun swasta, surat dinas itu konfidenslal bahkan ada yang rahasia, termasuk memo, notulen dan pengumuman via email, gitu juga yang pake WhatsApp, Telegram, dan lainnya, Jeng.”

“Kalo itu aku ngerti, Mas. Tapi kalo nyangkut kepentingan publik piyé, jal?”

“Itulah repotnya tafsir dan konteks. Kalo surat di kalangan birokrasi yang bocor padahal menyangkut kepatutan, mungkin opini publik mendukung, tapi birokrat nggak suka. Dulu Fadli Zon kirim surat ke KBRI di Amrik minta fasilitas penjemputan buat putrinya, kan? Karena jadi rame lalu Fadli bikin klarifikasi dan ngganti biaya.”

“Kalo nggak diramein cuek aja?”

“Aku nggak tau! Hahahaha!”

“Kalo di swasta?”

“Sama, kalo menyangkut kepatutan dan rasa keadilan bagi publik, ya bocoran info dianggap bernilai bagi orang luar. Dari email PHK sampai email memobilisasi karyawan buat ikut kampanye capres di stadion. Apalagi kalo itu perusahaan publik, pasti nggak patut.”

“Jadi kalo sampe ada sanksi bahkan mungkin pemecatan buat yang bocorin info berarti yang menindak itu bener?”

“Dari sisi mereka iya. Ini soal disiplin, etika kerja, ada yang diatur dalam kode etik tertulis, perjanjian kerja, bahkan peraturan perusahaan. Dulu waktu aku mimpin unit usaha, kalo rapat tahunan aku bikin aturan semua orang bebas muntah, maki atasan juga boleh, asal jangan berantem fisik, tapi yang dibahas dalam rapat adalah rahasia perusahaan.”

“Tapi masyarakat kan butuh info karena hal buruk bisa menimpa mereka di tempat kerja, Mas? Atau keputusan bos di kantor swasta maupun pemerintah bisa merugikan orang luar.”

“Ya mari bertarung opini, mana yang pantas dan nggak, apalagi di era medsos.”

“Tapi itu belum tentu menyelamatkan pegawai yang kena sanksi kan, Mas? Semua cuma omon-omon, nyenye-nyenye. Pegawai pake dukungan netizen dan pengacara buat nggugat secara hukum juga belum tentu menang, belum lagi kalo ditandingi buzzers bayaran yang cuma melek cuan tapi defisit moral. Paling pol pegawai yang kena sanksi cuma menang secara moral!”

Tinggalkan Balasan