
Sejak siang hingga malam saya berada dalam suatu acara. Ponsel saya senyapkan, saya tak melihat layar sama sekali. Setiba di rumah barulah saya melihat ponsel karena ada pesan WhatsApp dari ibu saya. Lho, itu cerita tak penting, kan?
Memang tak penting. Pesan ibu saya lebih wigati untuk saya pribadi, tak ada hubungannya dengan masalah negeri ini. Lalu saya membuka situs berita. Halah belum-belum ada pembengkokan cerita dalam kasus Febrie Adriansyah.
Akan tetapi hal itu tidak dapat saya sebut plot twist karena tanpa efek yang bikin terperangah. Memang sih, khalayak bisa ngedumel buat apa kemarin KPK dan Polri berkolaborasi bikin drama pemggeledahan dengan temuan gigantis?
Yah, gitu deh. Anda pasti punya kesan dan komentar yang lebih sip ketimbang saya. KPK dan Polri, bisa juga urutan penyebutan kedua institusi itu dipertukarkan, melimpahkan berkas perkara Febrie ke korpsnya, Kejagung.
Ada pula cerita Komisi III DPR, yang membidangi hukum, bikin panitia kerja kasus ini, tetapi jumpa persnya di Kejagung. Karena Sabtu adalah hari libur bagi parlemen prei? Eh, itu adalah bukti bahwa anggota DPR itu rajin.
