Warteg bersubsidi dan sekolah bersubsidi

Dulu sekolah partikelir bersubsidi disamakan dengan sekolah negeri yang payah. Kalau warteg bersubsidi?

▒ Lama baca < 1 menit

Warteg Subsidi Bahari di Jalan Raya Jatimakmur, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Secara sepintas beberapa kali di tempat berbeda saya melihat warteg dengan tulisan subsidi. Senja tadi saat berjalan kaki saya juga melihat ada warteg subsidi di seberang jalan. Setiba di rumah saya saya mencari tahu. Ternyata itu jenama, bukan istilah.

Jadi nama resminya adalah Warteg Subsidi Bahari. Merupakan waralaba, warteg ini satu grup dengan Warteg Kharisma Bahari. Subsidi Bahari menggunakan warna merah dan jingga, sedangkan Kharisma Bahari bertema hijau pupus, krem, dan merah. Modal awal waralaba mulai Rp117 juta.

Kenapa ada nama subsidi, menurut kabar karena manajemen menyubsidi harga makanan. Dalam situsnya, Warteg Subsidi Bahari mengatakan, “Yang pasti, ada di harga. Kami yang paling murah dari Warteg Bahari lainnya. Namun yang didapat oleh para mitra pada umumnya sama seperti Warteg Bahari lainnya.”

Warteg Subsidi Bahari di Jalan Raya Jatimakmur, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Oh, tiba-tiba saya teringat atribut zaman dahulu untuk SD, SMP, dan SMA swasta: ada embel-embel “bersubsidi”. Kalau tak salah, gurunya ada yang berstatus PNS sehingga pada hari tertentu mereka berbatik Korpri.

Saya tak tahu kapankah persisnya sebutan sekolah swasta bersubsidi dihapus, demikian pula atribut “disamakan” yang kemudian diganti akreditasi A (91–100, B (81–90), dan C (71–80). Jika kurang dari 70 berarti tidak terakreditasi.

Adapun istilah lama “disamakan” menghasilkan ledekan bahwa sekolah swasta yang bagus disamakan dengan sekolah negeri tertentu yang payah dalam segala hal. Tetapi hingga kini pemerintah provinsi masih memberikan subsidi untuk sekolah swasta tertentu.

Tinggalkan Balasan