
“Oh, ada ini. Mau?” kata perempuan muda itu di rumah sakit selagi mencari-cari power bank dalam tote bag. “Ini kacang, kayak biasanya kalo aku terbang,” dia melanjutkan. Terkemas dalam kantong jingga, tertera keterangan berat bersih 17 gram, isinya campuran kacang.
Dengan kemasan jingga nan cantik, maskapai meyakinkan para penumpang “Because You Matter”. Maka penumpang layak beroleh camilan, isinya sedikit, namun ada yang lebih menarik bagi saya. Kacang tersebut terbikin oleh Dua Kelinci, bukan Kacang Garuda, untuk Garuda Indonesia.
Saya membayangkan akan menarik jika Dua Kelinci membanggakan diri sebagai kacang resmi Garuda Indonesia. Di sisi lain, dengan kemasan 17 gram itu berapa persen komponen ongkos bungkus?

Dua Kelinci dan Kacang Garuda sama-sama berbasis di Pati, Jateng. Dua Kelinci, yang berjalan mulai 1972, mulanya berjenama Sari Gurih, dengan simbol dua ekor kelinci, sehingga masyarakat menyebutnya kacang dua kelinci. Akhirnya pada 1982 Sari Gurih berubah menjadi Dua Kelinci. Dua tahun kemudian bendera bisnisnya bernama PT Dua Kelinci.
Adapun Garuda mulanya menjual kacang curah tanpa merek di Jateng sekitar 1979. Pada 1987 kacang tersebut diberi merek Kacang Garuda. Bisnis terus berkembang, tak hanya membuat kacang atom dan kacang kulit, kemudian induk perusahaan bernama PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk.
Antara akhir 1990-an– awal 2000-an, semboyan Kacang Garuda dalam TVC, “Ini kacangku!” oleh suara perempuan, diprotes seorang warga, melalui surat pembaca di Kompas, dengan alasan tidak sopan.
