
“Karena jarang selama ini penduduk desa itu setiap minggu itu bisa makan telur, makan daging ayam, dan sebagainya. Semenjak ada MBG, alhamdulillah mereka merasakan manfaatnya. Termasuk tadi lahir pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang baru.”
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto mengatakan hal itu pekan lalu (23/6/2026) di Jakarta, di depan wakil sepuluh asosiasi desa. Potongan pidato itu ramai hari ini media sosial. Warganet mempertanyakan desa yang di mana, banyak yang mengaku orang desa tetapi sejak dulu sudah akrab dengan daging ayam dan telur ayam.
Taruh kata memang ada saja desa yang warganya belum tentu sepekan sekali makan daging ayam dan telur, maka pertanyaan saya apakah desa yang terburuk kondisinya sudah beroleh manfaat MBG?
Ini masalah retorika pejabat. Ada saja yang seenaknya kalau bicara. Saat ini kondisi perekonomian berat, ditambah sejumlah kasus salah kelola, apalagi dalam tahun ajaran baru, maka ocehan ngaco akan memancing amarah. Soal lama pun bisa diungkit-ungkit, dalam kasus Yandri adalah surat edarannya untuk kepala desa demi mobilisasi dukungan terhadap bininya yang ikut Pilkada Serang.
Apa boleh buat kalau rakyat jika rakyat bicara sesuka hati karena pejabat pun demikian. Padahal kalau kita masyarakat feodal betulan, pejabat boleh semuanya tetapi rakyat tak berani berlaku serupa.

