
Saya tak dapat menghitung jumlah layangan dalam kardus di teras penjual gudeg ini. Mungkin likuran. Saya membatin untuk menerbangkannya bergantian, sehari satu, akan habis dalam berapa pekan? Saat memotret saya teringat lagu Koes Plus “Layang-layang” (Volume 9, 1973).
Saya juga sempat menduga itu layangan hasil mengumpulkan barang yang didamparkan angin, seperti yang pernah saya lakukan saat usia tua namun perolehan saya tak sebanyak itu. Penjual gudeg mengatakan itu bukan layangan nyasar maupun layangan hasil anaknya berebut dengan galah.
Oh ya, anak mengejar layangan putus tali lalu berlomba menangkap dengan galah sudah tak pernah saya jumpai di area saya. Selera anak sekarang berbeda, lagi pula mainan lebih banyak.

Sebagian layangan koleksi si bocah, yang punya mobil-mobilan pikap dan mikrobus Su7uki, ini berbahan plastik bekas kemasan produk. Misalnya kapur bagus Bagus. Lainnya berbahan lembaran serupa kertas roti. Zaman saya bocah, anak-anak menggunakan kertas minyak atau kertas dorslah (dari bahasa Belanda doorslagpapier).
Kertas dorslah itu kertas tipis untuk tembusan mengetik dengan gramasi 30 gsm. Para penulis era lawas prakomputer biasanya punya tindasan karbon pada kertas dorslah. Sebagian kolumnis mengirimkan naskah ke media dengan dorslah karena lebih ringan, ongkir kilat khusus lebih murah daripada HVS 70 gram. Naskah artikel dengan ketikan dobel spasi membutuhkan lebih dari dua lembar.
