Ahhhh… jelantah bisa jadi rupiah

Minyak goreng bekas pakai bisa dimanfaatkan jadi BBM sampai lilin aromaterapi. Jelantah restoran untuk penjual gorengan?

▒ Lama baca < 1 menit

Poster penampung minyak jelantah di Jatimekar, Jatiasih, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Poster besar di pinggir gang ini menarik karena dua hal. Pertama: secara visual bagus. Kedua: dari sisi tata bahasa juga bagus, hemat kata, dan ada kata “ubah” bukan “rubah”.

Saya tak tahu apakah masih ada skripsi menggunakan kata “merubah”, dari kata dasar rubah, yang menurut KBBI adalah “mamalia karnivor terkecil dari kelompok anjing, bermoncong panjang (Vulpes vulpes)”. Jika ada, dosen pembimbing dan penguji skripsinya pasti orang ajaib.

Poster penampung minyak jelantah di Jatimekar, Jatiasih, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Nah, jika menengok ke kiri, di ujung kebun ada warung. Mungkin itulah penampung minyak jelantah. Saya menduga, bisnis ini bagian dari jaringan bisnis karena rupa poster tadi yang bukan kelas warung kampung dengan bangunan non-permanen. Sejumlah LSM maupun badan usaha berorientasi lingkungan memang bermain dengan jelantah selain sampah.

Minyak jelantah untuk apa? Banyak penerapan. Dari BBM, misalnya untuk campuran biodiesel dan bioavtur, serta minyak kompor. Sabun cuci dan lilin aromaterapi juga membutuhkan jelantah.

Kalkulator harga jual minyak jelantah — Blogombal.com
¬ Kalkulator harga jual minyak jelantah di laman situs web Cureahh.

Belasan tahun lalu, menjelang siang, sering saya lihat sepeda motor membawa beberapa jeriken diparkir di tepi jalan sebelah PIM 1, Pondok Indah. Ya, di Jalan Margaguna, terusannya Jalan Radio Dalam, Jaksel. Motor tersebut mengambil jelantah dari restoran. Tetapi orang sekitar bilang, jelantah itu untuk minyak goreng warung murah. Saya tak tahu benar atau tidak. Waduh, padahal saya penyuka gorengan.

Poster penampung minyak jelantah di Jatimekar, Jatiasih, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Tinggalkan Balasan