
Pekan ini ada dua info menarik soal polisi. Pertama, sebuah unggahan video akun Police with Attitude di Instagram lenyap. Kedua, Aipda Vicky Aristo Katiandagho mengundurkan diri dari pekerjaan polisi di Sulut.

Kita mulai dari info pertama. Dalam video, sang polisi, M. Hamzah al Farizi, menunjukkan buku Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru. Isi komentarnya positif. Padahal polisi dan militer, juga camat, membubarkan diskusi buku itu, misalnya di Madiun, Jatim, Desember tahun lalu.
Kemudian Dandhy Laksono dari Watchdoc, yang ikut menulis buku itu, mengunggahkan video terhapus di X. Buku tersebut laris, Natal lalu anak saya memesankan buku itu untuk saya, versi ekonomis, dan harus menunggu tiga pekan sampai pesanan tiba. Buku itu cetakan ketiga, padahal di bulan yang sama, Desember, ada cetakan kedua.
cc: Gen Z TNI pic.twitter.com/JI1OR1Vyy7
— Dandhy Laksono (@Dandhy_Laksono) April 1, 2026
Tentu, versi bajakan buku itu banyak dijajakan di pasar daring. Tetapi sungguh terlalu jika Anda memesan bajakan karena memangkas hak ekonomi penulis dan penerbit yang membayar pajak, padahal pembajak tak bayar pajak, tak membayar royalti.
Saya tak tahu dari sejumlah polisi yang melarang diskusi, berapa orang yang pernah membaca Reset Indonesia. Saya selalu berharap ejekan ini ngawur: polisi, terutama yang rendahan, malas membaca padahal tidak buta huruf.
Adapun soal kedua, bagi saya belum jelas duduk maupun berdiri masalahnya.
Sejauh informasi yang saya cerna,Vicky keluar dari kepolisian karena kecewa, saat mengusut dugaan korupsi di lingkungan Pemkab Minahasa dirinya malah dimutasi dari jabatannya Kepala Unit Tindak Pidana Khusus Sarreskrim Polres Minahasa, dipindahkan ke Polres Kepulauan Talaud.

Misalnya benar demikian masalahnya, maka menjadi polisi yang lempeng itu sulit karena harus berlawanan dengan korps sendiri. Maka saya teringat film abad lalu, Serpico (Sidney Lumet, 1973), tentang petugas patroli NYPD Frank Serpico (Al Pacino) yang membongkar suap dan korupsi. Ujung-ujungnya dia mengundurkan diri.

Film tersebut bertolak dari biografi Frank Serpico yang ditulis oleh Peter Maas. Gramedia Pustaka Utama pada 1978 menerjemahkan buku tersebut. Saya membacanya awal 1980-an sebagai buku lusuh yang berpindah dari tangan ke tangan.

¬ Buku “Serpico”, bahasa Indonesia, sumber: Bale Buku Bekas.
Lalu adakah film Indonesia yang mengangkat polisi lurus? Saya tak menonton filmnya, hanya membaca beritanya, bahwa Sophan Sophiaan (1944–2008) menyutradarai Letnan Harahap (1977), tentang seorang polisi (Kaharuddin Syah) yang menolak suap. Katalog Film Indonesia memberi catatan, “Yang disayangkan adalah kritik dan pelukisannya terlampau verbal dan hitam putih.”
Sophan meninggal karena kecelakaan lalu lintas dalam touring Harley-Davidson di Ngawi, Jatim. Sejumlah kabar menyebutkan dia terjatuh dari motor dan tanpa sengaja terlindas motor peserta lain, yang ditunggangi seorang pensiunan jenderal polisi.
¬ Sumber foto Vicky tak diketahui
