
Panel dinding mirip kayu di warung Sunda dengan lalap berlimpah di Jatiasih, Kobek, Jabar, ini jebol. Saya tak tahu penyebabnya selain menduga akibat benturan dengan sudut keras.
Orang menyebut lembaran macam ini panel PVC. Namun saya tak tahu, tepatnya tak dapat membedakan, mana panel UPVC dan mana pula WPC. Sudah sepuluh tahun ini lembaran PVC, UPVC, dan WPC, serta conwood, mewarnai bangunan kita, di luar maupun di dalam ruang.

Media sosial dan lapak lokapasar memberikan banyak contoh dan rekomendasi, tetapi dalam praktik tetap saja kebingungan terjadi.
Maksud saya jika pemilik proyek adalah saya, dan pemborong apalagi cuma tukang tak paham perkembangan bahan baru, sampai ke teknik pemasangannya.
Hal yang membingungkan adalah pilihan bahan dan jenis serta peruntukan, untuk dalam ataukah luar ruang. Juga untuk plafon, dinding, ataukah lantai.
Untuk lantai, juga mesti mempertimbangkan di area mudah basah ataukah selalu kering. Di atas semua itu tentu tingkat keawetan untuk masing-masing penerapan bahan. Kebutuhan rumah tinggal dan desain stan pameran produk apa pun tentu berbeda.
Jawaban paling mudah tentu menghubungi konsultan, sambil berharap kepala tukang dan anak buahnya rajin mengikuti video tutorial pertukangan di media sosial. Eh, tetapi konsultan tidak bisa gratis. Sementara pemborong belum tentu pawai. Meniru tetangga belum tentu dia di jalan yang benar.

Nah, saya membayangkan distributor bahan bangunan, apalagi perusahaan wakil resmi merek di Indonesia, memanfaatkan AI untuk konsultasi secara daring melalui obrolan teks. Ratusan orang bertanya berbarengan pun bukan masalah. Komunikasi pada jam makan maupun jam tidur bukan soal.
Apakah AI pasti benar? Setahu saya sebagai mesin dia terus belajar. Kemarin salah fatal, hari ini salah biasa, besok berkurang kesalahannya, lusa lebih bagus, dan seterusnya. Petugas layanan konsumen, apalagi tak kompeten, juga bisa salah.
Perbedaannya, kalau dia manusia, bukan mesin, punya perasaan kalau kita marahi karena dia salah, apalagi jika juragan yang menghardik. Kalau itu AI, bos mengepruk layar monitor pun tak membangkitkan respons — kecuali sudah ada setelan AI untuk bereaksi dari alat lain yang belum rusak, misalnya ponsel si bos.
