Bika ambon dan bikang ambon, plus persoalan kapitil bukan kepatil

Ada versi baku dan tak baku namun semua orang paham artinya. Kalau kapitil kenapa dirasa jorok?

▒ Lama baca < 1 menit

Kios pukis dan bika ambon, Naga Swalayan, Jalan Hankam, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Kios kecil itu masih tutup, masih prei Lebaran. Selain lumpia, dia jual bikang. Ada yang menyebut “bika ambon”, ada pula “bikang ambon”. Sedangkan dalam penulisan ada “bika Ambon” dan “bikang Ambon” — lihat huruf kapital pada kata kedua. Menurut KBBI, yang baku adalah “bikang”. Yah, itulah bahasa. Yang penting sama-sama paham.

Lalu penulisan nama geografis, dan katakanlah nama suku, misalnya dalam bikang maupun bika, sebaiknya “Ambon” atau “ambon”? Untuk bikang, menurut bahasawan, adalah “bikang ambon” karena ambon bukan nama geografis, melainkan atribut, lagi pula bikang tak berasal dari Ambon, Maluku, melainkan Medan, Sumut. Ini serupa “kunci inggris” dan “garam inggris”, serta “asam jawa”. Kata kedua sebagai penjelas ditulis dalam huruf kecil.

Bikang atau bika ambon, mana yang benar? - KBBI — Blogombal.com

Adapun gudeg, yang disepakati adalah “gudeg Jogja” karena menyangkut asal-usul geografis, seperti halnya “warung Tegal” dan “masakan Padang”, serta “lumpia Semarang” dan “lumpia basah Bogor” — semua nama tempat diawali huruf kapital, bukan kapitil¹. Kalau kepatil itu terpatil, terlukai oleh patil ikan lele — oh ya, OOT: versi lele mentah termarinasi adalah inovasi andalan dan kebanggaan BGN c.q. MBG namun masyarakat menolak.

Membingungkan? Ya. Saya pun sering tak konsisten, kadang menuliskannya “warung padang” dan “warung tegal”. Lalu untuk “selat solo” dan “sosis solo”, serta “selat Solo” dan “sosis Solo” bagaimana? Saya tak tahu apakah guru bahasa Indonesia menjadikan penulisan unsur nama, yang dalam persepsi adalah nama daerah, sebagai bahan diskusi di kelas.

[1] Kapitil (akronim untuk kapital kecil; huruf kecil, non-kapital, lowercase) mulanya merupakan istilah dalam lingkungan internal Badan Bahasa, namun akhirnya diangkut ke KBBI dengan penjelasan sebagai kata dalam bahasa percakapan, informal. Namun tak semua bahasawan setuju karena kapitil terkesankan cabul, seolah terhubung ke lema “it*l” (klitoris). →Lihat kritik Saeful Anwar di Kompas (24/1/2026).

Kontroversi kata kapitil dalam KBBI yang berkonotasi cabul - Kompas — Blogombal.com

One Comment

Zam Sabtu 28 Maret 2026 ~ 13.20 Reply

aduh jadi pengen pukis dan bikang..

soal kapitil ini, enak juga ya jadi badan bahasa, bisa tinggal masukkan ke kata baku, meski banyak bahasawan kurang setuju 😅

Tinggalkan Balasan