
Saya tak tahu apakah harga Rp10.000 untuk paket nasi dan ayam goreng plus lalap dan sambal di warung ini masih berlaku. Misalnya harga sudah direvisi, saya memaklumi. Harga-harga naik. Apalagi bulan puasa kemarin.
Hanya dapur MBG yang tak merevisi karena harga tak punya published price dengan maupun tanpa tanda ++, tetapi menu diganti makanan ultra-pemrosesan dan buah yang belum tentu segar dengan bonus ulat. Atau diganti lauk segar, berupa ikan lele yang dimarinasi karena PT Dhapurmu Kuwi yakin ikannya akan memanggil, “Mari, nasi! Mariiiii…!” Lalu nasi menyahut, “Nd*smu!” — sesuai yang dicontohkan pemimpin.

Warung ini seingat saya baru empat bulan beroperasi, di pinggir sebuah gang yang menanjak. Lihat saja spanduknya belum pudar.
Apakah harga Rp10.000 itu meledek MBG? Tentu tidak. Siapa pun boleh berbisnis makanan secara baik dan benar. Dan tentu siapa pun boleh menafsirkan warung murah selalu mengejek MBG — namun itu salah alamat. Karena MBG (Mari Bergoyang Gemoy) bukanlah bisnis. Profit bukan tujuan. Maka harus ditopang insentif Rp6 juta per hari.

4 Comments
Sing wolung ewu isih ono Pakde
Wah top tenan, Pak Guru 👍👏💐
nasi ayam Rp10.000 masih ada 😱
Ajaib juga. Ekonomi rakyat itu liat. Gak minta fasilitas pemerintah.