
Selamat datang MBG TV. Siaran itu diselenggarakan oleh Forum Jupnas Gizi Indonesia (Jupnas Gizi). Dalam sebuah artikel di situsnya (20/2/2026), Jupnas Gizi menyatakan:
MBG TV telah menjalin kerja sama strategis dengan 13 stasiun televisi lokal yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku. Kerja sama ini memastikan distribusi informasi edukasi gizi dan Program Makan Bergizi Gratis dapat menjangkau masyarakat secara luas dan merata.
Bagus. Artinya informasi seputar MBG akan kian banyak. Tinggal mana saja informasi yang dipercaya oleh masyarakat. Hal itu lebih penting daripada pertanyaan apakah isi MBG sesuai namanya.
Wakil Kepala BGN Letjen TNI (HOR) Lodewyk Pusung dikutip dalam artikel, “Kami menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap MBG TV yang diinisiasi oleh Forum Jupnas Gizi Indonesia….”
Akan tetapi Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi dan Investigasi Nanik S. Deyang mengatakan, “Sebagai Waka bidang komunikasi saya tidak tahu dan BGN juga tidak tahu ada yang membuat MBG TV.” (¬ Detik, 26/2/2026).
Jadi, apa masalah MBG TV? Tidak ada, karena mereka belum mengumumkan punya masalah. Soal sumber dana untuk membiayai program siaran tentu saya tak tahu maupun tempe karena tak mencarinya.
Lalu apa masalah BGN? Juga tidak ada, buktinya dapur SPPG jalan terus, dan anak-anak sekolah yang menjadi target tetap menerima ransum — apa pun isi dan kualitasnya.
Lalu masalahnya di mana dan siapa? Orang-orang antek asing yang hanya sambat dengan berbagi info, disertai foto dan video, tentang MBG yang diterima murid.
MBG ini proyek mulia, menggerakkan perekonomian masyarakat, membuka lapangan kerja (bagian dari 19 juta lowongan kerja) bahkan pekerjanya diangkat jadi ASN, ada insentif Rp6 juta per hari untuk SPPG. Apa masih kurang, Ki Sanak?
Dunia ini seolah penuh masalah karena selalu ada orang yang mencari masalah, bahkan tak berniat mencari pun tetap bersua. Endonesah tak seburuk itu. Semuanya bisa berjalan, sesuai kemajuan kendaraan canggih, dari kapal terbang sampai mobil elektrik berbasis AI: autopilot.
Kata orang Jawa, pilot itu singkatan pipi alot. Eh, saya malah membayangkan steik lidah sapi, karena setiap hari 19.000 ekor sapi disembelih untuk MBG. Cuma ekornya?
Bahwa untuk memenuhi ketersediaan sapi harus mengimpor, melengkapi impor selama ini, ah itu bukan sapi asing karena sudah lolos naturalisasi.
Kembali ke perihal masalah, apa kerennya jika mudah menemukannya, bahan ketika kita tidak mencari? Dalam istilah para kolektor, yang keren itu barang yang rare. Kalau barangnya ada di mana-mana, itu nggak unik karena cemen.

11 Comments
asli sampah. dari sekian banyak masalah, malah bikin masalah baru.. 😌
Namanya juga Endonesah
Ada SPPG yang membagikan ultra-processed food, minim serat, minim protein. Berarti dapurnya nggak memasak. Kalau gitu, kan mending gandeng minimarket atau supermarket terdekat aja, nggak usah bikin dapur 🙁
Langsung aja menggandeng distributor atau pusat perkulakan kayak Makro dulu. Eh sekarang apa ya gantinya?
Makro yang di Pasar Rebo setahu saya sekarang jadi toko grosir Lotte, Bang Paman. Sama dengan yang di Simpang Yasmin, Bogor.
Pasti chanel tipinya ga seru & ga ada film serial fiksi yg bagus.. eh apa itu malah sebenarnya chanel fiksi?
Isinya fiksi dan komedi tingkat tinggi yang memeras nurul kita 🫣
Steik lidah sapi? Di warung makan istri saya ada menu selat lidah sapi….
Wah akan saya coba asalkan ditraktir suaminya Mbak Lies 😁
#ndremis
Weleh Paman retos ndremis juga, to?😁
Karena saya orang ndremis cluthak. Saya mau nyaleg.