
Selagi menunggu giliran dipanggil oleh petugas rumah sakit, pria sepuh itu duduk di atas kursi roda sambil membaca buku Cerita Aesop. Lho, itu buku fabel untuk anak-anak, bukan? Ya, sering disebut demikian. Di Indonesia ada sejumlah versi terjemahan.

Fabel adalah dongeng dari dunia satwa yang antropomorfis, karena tokoh-tokohnya serupa manusia — ya, seperti si Kancil yang hanya itu namanya. Adapun buku yang dibaca opa itu adalah versi yang diterbitkan oleh EIN Institute, Semarang (alih bahasa: Ellen Kristi & Andika Budiman).
Versi ini terjemahan dari The Æsop for Children (1919), disertai gambar-gambar karya Milo Winter (1888-1956), berisi 147 kisah. Saya tak hafal apa saja isi Aesop yang saya baca maupun saya kenal waktu kecil dari Ibu yang mendongengi saya, dan membacakan buku, antara lain dari versi adaptasi bahasa Jawa; namun saya ingat kisah tentang anak gembala dan serigala — versi Jawa: serigala diganti macan.

Aesop atau Aisopos dipercaya sebagai penulis Yunani Kuno (620–564 SM). Semua informasi tentang fabelnya menyertakan kata “moral”, sehingga Mommies Daily merekomendasikan buku itu. Salah satu versi Indonesia diterbitkan oleh Diva Press, segrup dengan Penerbit IRCiSoD, Jogja.

Mereka bukan penerbit bacaan anak-anak. IRCiSoD menerbitkan buku-buku klasik humaniora, termasuk karya Karl Marx, Sigmund Freud, dan Ludwig Wittgenstein. Saya lupa-lupa ingat apakah Grafitipers (Tempo) pada 1980-an pernah menerbitkan Aesop ataukah hanya saya jumpai di toko buku miliknya di Slipi Jaya Plaza, Jakbar.
Jadi apa lagi yang menarik dari opa membaca Aesop?
- Masih ada orang membaca media kertas di rumah sakit, karena koran yang dua tahun lalu tersedia di sana kemarin tak saya lihat
- Wajar karena sekarang semua hal ada di ponsel, bahkan mendaftarkan diri untuk periksa kesehatan ke rumah sakit pun dengan ponsel
- Tentu tak hanya di ruang tunggu orang menatap ponsel dengan bertafakur, karena dalam perjalanan di atas sekian moda angkutan pun demikian
Saya dulu biasa membeli bacaan di depan RS Gandaria, Kebayoran Baru, Jaksel. Hanya membeli satu dua media, lainnya hanya menumpang baca dan diizinkan oleh si pelapak.
Saya catat dalam pos 2024:
Medio 2013, ketika Android dan iPhone makin bertambah pemiliknya, dan BlackBerry masih berjaya, maka Johnny, pemuda Nias penjual koran dan majalah di seberang RS Gandaria, Jaksel, menutup lapaknya karena pembeli berkurang.
Akhirnya dia saya temukan di Pasar Mayestik, bersaing dengan pelapak majalah baru maupun lama tentang kebaya. Di Mayestik banyak penjual kain halus dan penjahit kebaya.

Lalu tentang apa yang dibaca orang di atas angkutan massal, saya ingat sebuah situs web berbasis Tumblr, yakni Underground New York Public Library, terbit mulai 2008 dan akhirnya tamat karena orang lebih nyaman dengan ponsel, bukan buku.

Blog tersebut berisi hasil jepretan jalanan Ben-Haim, tentang apa yang dibaca orang, lalu para pembaca menanggapi. Saat awal terbit, kamera ponsel belum bagus, iPhone dan Blackberry bukan milik semua orang, sehingga harus menggunakan kamera digital, mungkin jenis saku (point-and-shoot).
Zoe Block dalam The American Reader (2015) mengomentari:
Proyek UNYPL bergantung pada hubungan intim antara pembaca anonim dan pengamat yang tidak disadari. […] Jika foto-foto di situs UNYPL beralih ke arah pseudo-intelektual, jika subjek-subjek ini memilih untuk membaca À la recherche du temps perdu, atau Moby-Dick, karena mereka menyadari Ben-Haim sedang mengamati, maka daya tarik utama proyek ini akan rusak.
Soal lain yang lebih penting daripada apa yang sedang dibaca orang tentu perlindungan privasi. Di blog wagu ini, terutama beberapa tahun belakangan, sebisanya saya menutupi wajah subjek, kecuali saya memotret atas kesepakatan, bahkan pelat nomor kendaraan dan nomor rumah pun saya sensor.
Akan tetapi kehidupan dalam perjalanan sebenarnya banyak yang menarik untuk kita lihat justru ketika kita tak asyik dengan ponsel kita secara nonstop.



4 Comments
kalo di Jerman, buku cerita anak-anak banyak yang mengajarkan kenyataan yang tidak selalu berakhir bahagia. bahkan kadang berasa “kejam” dan “dewasa”.. contohnya: Hansel dan Gretel, dan kisah Si Pengisap Jempol yang akhirnya dipotong jempolnya karena dianggap mengisap jempol adalah kebiasaan buruk (dari kumpulan cerita Der Struwwelpeter)
Hansel dan Gretel bikin saya waktu kecil nangis ketika dibacain cerita 🙈
Nemu aja fragmen menarik seperti itu, paman
Namanya juga kebetulan dan iseng usil 🫣