Gambar alis gratis, gambar dengkul juga

Persoalan bahasa, Charlie Chaplin, Edi Geyol, Cak Lontong, dan Angry Birds bersua toko kosmetik.

▒ Lama baca < 1 menit

Menggambari alis gratis di toko Dan Dan Puri Gading — Blogombal.com

Semua orang paham maksud pesan dalam toko kosmetik ini: di sana untuk menggambari alis itu gratis. Semua orang juga paham bahwa pesan tersebut untuk perempuan.

Kalau ada pria minta alisnya digambari, ditambah garis kumis di atas bibir, pasti disangka akan meniru Charlie Chaplin, atau kalau kumisnya bukan cuma dua garis tegak akan disangka ingin jadi Edi Geyol Srimulat (nama asli: Sakimin Joyo Sudarmo).

Kalau pria, atau terutama wanita, hanya ingin mempertebal alis secara ekstrem pasti akan disangka warga fandom Angry Birds yang akan bikin vlog di TikTok dan Instagram.

Ada soal lain. Anda akan disangka orang naif jika menanya pramuniaga, “Gambar alisnya masih, Mbak? Lalu gambar dengkul dan gambar jakun?”

Masih beruntung jika Anda disangka guru bahasa Indonesia, atau orang asing (misalnya dari Suriname dan Kaledonia Baru) yang sedang belajar bahasa Indonesia. Atau bisa juga dituduh sebagai fan Cak Lontong yang gemar mempermainkan makna kata. Gambar alis dan menggambar alis atau nggambar alis itu berbeda. Kata kerja dan kata benda. Semua orang paham.

Urusan menggambari alis rupanya tak dipahami setiap pria yang bukan pelaku seni pertunjukan. Saya ingat dalam rapat awal tahun 2000 untuk merancang konten video dalam portal, sebelum ada YouTube apalagi Instagram, seorang sejawat, ibu muda, dari bagian bisnis, mengusulkan panduan merias diri dengan cepat, “Misalnya nggambar alis.” Para pria, padahal sudah beristri, tertawa.

Si Ibu pun tersengat dan bilang, “Nggambar alias biar rapi dan simetris itu nggak gampang, ngabisin waktu, padahal harus buru-buru berangkat kerja. Tanya istri kalian gimana repotnya!”

Untung tak ada pria semprul menyahut, “Ya jangan buru-buru, atau nggak usah pake pensil alis sekalian. Ditato aja.”

3 Comments

Zam Minggu 22 Februari 2026 ~ 14.52 Reply

saya pernah dengan bahwa Charlie Chaplin ini meniru diktator berkumis, untuk propaganda agar ngga takut sama si tokoh. makanya si tokoh digambarkan konyol, bodoh, dan jadi bahan tertawaan untuk menaikkan moral tentara dan warga. 🫣

snydez Kamis 19 Februari 2026 ~ 05.35 Reply

gambarnya pake pensil warna apa krayon?

Pemilik Blog Kamis 19 Februari 2026 ~ 09.42 Reply

Pake konté.
Dulu waktu kecil saya lihat pemain jathilan pake arang.

Tinggalkan Balasan