
Saya tak dapat memastikan apakah sepeda ini yang sering melintas di depan rumah saya, penunggangnya menjajakan dagangan, “Kêré, kêrééé….” Ya, kê-ré, bukan ké-ré.
Tatkala mendapati sepeda ini disandarkan pada tiang listrik di depan sebuah rumah, pada ujung jalan buntu di kompleks lain, yang berujung pada gang kecil pendek dan tangga menurun, saya tak melihat penunggangnya.
Apakah si penunggang sedang bekerja memasang kerai di rumah seseorang? Tampak tali pengikat terurai di sebelah kereta angin. Selama ini saya menduga si penunggang sepeda adalah juga si pembuat kerai. Jika dia juga memasangkan kerai berarti merangkap pekerjaan: membuat, memasarkan dengan berkeliling, dan memasangnya di rumah pembeli.
Apakah setiap hari dia berkeliling selalu ada setidaknya seorang pembeli? Ini serupa pertanyaan dalam batin saat melihat penjaja kursi bambu berjalan memikul dagangannya namun belum pernah saya foto.
Kerai bambu terus dibuat dan dijual. Ada pembelinya, tetapi saya tak tahu kerai lalu setelah berapa hari ngider. Ketika pagi itu saya terus melangkah, menuruni tangga, lalu memotret sepeda itu lagi, tampaklah kerai yang tampak baru sudah terpasang pada teras rumah. Mungkin rumah itu membeli kerai dari si penunggang sepeda.


4 Comments
Di lingkungan saya, para pembuat dan penjual kerai bambu terpusat di (pinggir) Jalan Muh Yamin, antara prapatan Notosuman dan Kawatan. Yang lejen namanya Pak Bayek.
Saya beberapa kali beli dari beliau. Pernah saya blog-kan tapi belum ketemu arsipnya saat saya cari.
Wah Pak Bayek pernah diangkat media lokal gak?
Barusan saya cek, tidak ada arsipnya di media lokal. Yang ada bbrp arsip di blog dan medsos termasuk YouTube.
Begitulah, media berita berbasis teks makin terasing dari masyarakatnya 🤭🫣