
Dari kejauhan, mata saya menangkap hiasan dinding peta daging sapi. Itu hal lazim di toko daging dan supermarket. Maklumlah kedai ini bagian dari toko daging Nusantara di Kranggan, Jatisampurna, Kobek, Jabar. Tetapi setelah saya amati ternyata bukan peta daging. Bentuknya bukan versi simpel yaitu kotak-kotak seperti peta Amerika Serikat.

Itulah kelebihan negeri kontinental: membagi batas wilayah negara bagian dalam garis lurus. Australia juga demikian. Saya membayangkan, padahal mungkin salah, bahwa Soeharto dulu membagi HPH di Kalimantan untuk sejumlah jenderal dan tokoh pejuang dengan cara asal tarik garis.

Lalu peta pada badan sapi itu apa? Peta Nusantara, eh peta Indonesia. Adapun peta daging yang sering dipajang di meat shop, demikian kelas menengah Jakarta dulu menyebut toko daging, ada yang versi simpel garis lurus dan ada yang versi garis lengkung.
Rajah skematis daging sapi mungkin termasuk infografik versi awal dalam dunia grafis modern. Kalau sangat terperinci dan sebisa mungkin mendekati kenyataan itu namanya gambar anatomis. Apakah dua versi gambar tersebut berbeda maksud, saya tak mencari tahu. Terus terang saya tak paham perdagingan tapi paham kedagingan.

Lalu kenapa dalam judul saya menyebut “sampi”, bukan “sapi”? Iseng saja. Dulu dalam buku-buku lama yang terbit sebelum saya bersekolah, ada sampi selain sapi. KBBI mengangkut lema sampi disertai keterangan sebagai bentuk tak baku dari sapi. Mungkin kartu kuartet zaman dulu pun menulis sampi, karena nanas ditulis ananas.
