Dari seratus konsumen, berapa yang baca kertas kecil?

Terlalu banyak informasi dalam pelbagai media, termasuk berupa setruk. Kita tak punya waktu untuk memperhatikan.

▒ Lama baca < 1 menit

Setruk makanan Grab Food — Blogombal.com

Saya memang pria iseng, terutama dulu. Dalam hal apa? Membaca sobekan kertas bungkus, waktu masih bocah. Setelah tua kebiasaan itu kadang masih kumat secuil. Misalnya setruk belanja. Padahal tak jelas manfaatnya.

Kemarin saya tertarik membaca secarik kertas kecil, dengan hasil cetakan di atas kertas termal, memakai fon gaya tulisan tangan. Kualitas cetakannya bergerigi.

Setruk makanan Grab Food — Blogombal.com

Tak ada perincian harga dalam pesanan makanan anak bungsu saya melalui Grab Food. Namun saya tetap tertarik membacanya, karena saya punya waktu dan kambuh iseng saya. Isinya ya biasa. Cuma pengingat dan catatan waktu dalam pemesanan. Wajar, karena dikerjakan oleh jaringan komputer, banyak data dapat dimunculkan.

Meskipun demikian saya pernah mengabadikan bon-bon kertas dalam transaksi daring yang ditulis secara manual. Mungkin karena saat itu peranti POS (point of sale) dengan printer termal maupun bertinta belum dimiliki semua pelapak lokapasar, terutama untuk makanan dan minuman.

Setruk makanan Grab Food — Blogombal.com

Sekarang pun tanpa printer tetap bisa berbisnis daring. Semuanya tercatat dalam sistem di komputer, termasuk ponsel. Bahkan untuk kode penjemputan paket kiriman, penjual cukup menuliskan pada bungkus, kode yang disalin dari aplikasi ponsel.

Maka pelapak tak perlu memiliki printer stiker untuk label pengiriman karena perusahaan logistik akan menerakannya. Semuanya seolah berlangsung alami, kita hampir tak peduli proses perubahan itu.

Bon kertas manual dalam belanja daring — Blogombal.com
Kiri: Bon kertas ditulis manual, berstempel, untuk pembelian alat listrik di Jakpus, via Tokopedia. Kanan: bon kertas dengan tulisan tangan dari warung gudeg di Pondokgede, Kobek.

Sekarang pun mungkin Anda lupa kapan, tepatnya tahun berapa, Anda membayar tol di loket dengan uang tunai, lalu menerima setruk dengan catatan waktu transaksi.

Jika Anda masih ingat kapan membayar tol dan menerima setruk seragam, hanya ada nama gerbang tol, bernomor seri, hehehe… mungkin Anda sudah lansia tetapi daya ingat masih bagus. Karcis tol yang sudah jadi itu dulu menjadi celah koruptif. Bagi siapa?

Bon kertas manual dalam belanja daring — Blogombal.com
Kiri: bon kertas ditulis tangan dalam pemesanan makanan di Kobek via Gofood. Kanan: Juga Gofood, dari nasi goreng kambing Kebon Sirih, Jakpus.

Pertama: petugas jalan tol, berupa pengutilan uang tunai hasil pembayaran dari pengguna jalan tol; dulu banget menjadi berita koran. Kedua: para kolektor karcis tol bekas, dulu di tepi jalan dari Bandara Soekarno-Hatta ada saja pemegang gepokan karcis bekas. Untuk dijual eceran. Pembelinya? Mereka yang butuh rembes (reimburse) pengeluaran fiktif.

Transaksi elektronik dalam ekosistem bisnis daring memperkecil peluang itu. Tentu upaya culas bin licik tetap ada. Tapi auditor biasanya bisa mengendus.

Artefak karcis Transjakarta dan tol — Blogombal.com
Karcis eh tiket Transjakarta dan versi lama karcis jalan tol tanpa teraan waktu transaksi.

Tinggalkan Balasan