
Hampir semua orang pernah, atau bahkan masih, berutang sehingga berkewajiban melunasinya. Di sisi lain, kita sebagai pemberi pinjaman kesal jika urusan tak beres. Konglomerat yang masuk daftar orang terkaya juga memperbesar kerajaan bisnisnya dengan kredit. Hanya dalam membeli mobil dan rumah mereka melakukannya tanpa kredit.

Soal utang, sering kita lihat toko dan warung menempelkan maklumat yang intinya tak bersedia menjual barang tanpa dibayar lunas. Foto pertama adalah toko bangunan dekat rumah saya. Adapun foto berikutnya saya jepret di sebuah warung Madura, seberang rumah sakit, sekitar empat kilometer dari rumah saya.
Yah, sebenarnya umumnya orang tak ingin berutang. Membayar apa pun langsung lunas. Tetapi ketersediaan uang menjadi kendala. Padahal urusan yang harus dia bayar adalah sangat penting, dari sekolah anak sampai biaya rumah sakit.
Kemarin malam, di pelataran sebuah rumah sakit di Kalideres, Jakbar, saya melihat seorang pria gempal, yang menyelempangkan tas pinggang besar di dada, marah-marah melalui ponsel. Sejauh saya tangkap suaranya, dia memarahi seorang ibu di dalam RS, mungkin pasien di ruang perawatan, tetapi bisa juga penunggu pasien di ICU, karena tak kunjung melunasi utang.
Kira-kira dia bilang begini, “Soal sakit itu masalah Ibu, urusan saya adalah utang Ibu. Jangan memperpanjang masalah pake lapor polisi, entar repot sendiri. Saya akan nunggu Ibu terus di luar sini.”


5 Comments
Serem amat, nagih utang sampai ikutin ke rumah sakit 🙁
Yah gitu deh. Si penagih juga butuh setoran demi persenan. Saya gak tahu apakah debt collector juga punya utang pinjol.
Paling enak konglomerat debitur BLBI. Yang utang kan badan usaha dia, sementara dia gak jadi miskin. Yang nagih juga harus kuat.
Lhaaa…
celakanya sekarang banyak pinjol dan paylater 😫