Gotong royong sesat di eksit tol

Mengurusi pelanggaran harian tak canggih saja gagal, kok mimpi Indonesia Emas 2045.

▒ Lama baca < 1 menit

Pak Ogah di eksit tol Duri Kosambi Jakbar — Blogombal.com

Dari dalam lajur jalan tol saya melihat eksit di Duri Kosambi, Jakbar, itu ditutup dengan kerucut, rantai, dan perintang lain, ada dua pemuda duduk di atas penghalang sambil merokok. Aneh, kongko kok di sana.

Tetapi setelah taksi melaju, tampaklah pantat sedan barusan meninggalkan penghalang. Saya heran, kenapa bisa padahal jalan keluar ditutup? Sayang saya tak sempat memotretnya.

Setelah taksi keluar dari pintu eksit berikutnya, masuk ke jalan umum, untuk mencari putaran U, saya pun penasaran. Nanti setelah kembali melewati eksit itu dari sisi jalan umum, saya akan mengamati. Ternyata benar. Rantai perintang diangkat oleh beberapa pemuda agar mobil dapat lewat.

Pak Ogah di eksit tol Duri Kosambi Jakbar — Blogombal.com

Indonesia banget. Kalau ada suatu pembatasan akses oleh pihak berwenang, hal itu dapat diterobos asalkan ada uang. Di eksit JORR Jatiwarna dari arah Jatiasih, pembatas agar mobil yang keluar dari jalan tol tak memutar balik, karena di sana adalah jalan searah, juga ada sejumlah Pak Ogah membuka tutup perintang dengan menggeser.

Padahal di dekat sana, bundaran Jatiwarna, ada pos polisi. Kedua jalan searah yang mengapit jalan tol itu masing-masing berlalu lintas searah. Petugas Dishub Kobek juga sering berjaga di kedua mulut jalan. Pihak pemasang rambu adalah dishub.

Bagi orang dishub, mereka yang di lapangan punya kewenangan diskresif karena setiap menit adalah masa darurat. Lalu apa gunanya aturan dan pedoman?

Rakyat punya lelucon: aturan dibuat untuk dilanggar. Benar juga, kalau tak ada aturan takkan ada pelanggaran. Aturan itu seperti pintu, harus bisa dibuka dan ditutup. Kalau ada pintu besi dilas mati empat sisi, itu bukan pintu. Cuma penambal lubang besar.

Maka jangan percaya igauan Indonesia 2045 akan sudah maju. Mengatasi hal sepele harian macam ini saja tidak mampu, padahal tidak canggih.

Aparat bisa bilang kasihan, Pak Ogah pelanggar hukum butuh makan. Mereka lupa, tugas pemerintah adalah memberi makan orang yang tak punya pekerjaan.

Kasihan, mereka butuh makan, juga diterapkan untuk perusak lingkungan, termasuk yang menyebabkan bencana Sumatra. Hal sama diterapkan untuk para koruptor. Pelaku kejahatan luar biasa itu dianggap sama dengan pelaku pidana umumnya sehingga berhak atas remisi atau korting hukuman bui.

Bangsa yang besar adalah bangsa pemaaf — dan juga pelupa terhadap pengkhianat negeri. Kasus pelanggaran nan canggih hanya diatasi di muka karena pesanan. Setelah itu cincai capai. Hebat ya, Indonesia.

2 Comments

Zam Rabu 7 Januari 2026 ~ 15.05 Reply

ada sebuah obrolan dengan teman saat ada seorang teman dari teman berkunjung.. banyak aturan ini itu, dan meski terlihat ribet, tetep patuh.

si teman dari teman yang berkunjung masih membawa mental, terceletuk, “ngga suka tinggal di LN (cuma buat kunjungan aja), karena kalo di dalam negeri, ‘selalu ada jalan’” 🫣

Pemilik Blog Kamis 8 Januari 2026 ~ 06.51 Reply

Saya pernah dengar serupa dari seseorang yang pernah bekerja di beberapa negeri di bidang rekayasa eh engineering, terakhir tiga tahun di Prancis. Indonesia lebih enak, lagi pula mudah ngobrol sama orang.

Tinggalkan Balasan