
Sudah lazim jika kedai memasang akan tutup pada hari raya, misalnya Lebaran dan Natal, juga tahun baru. Ada juga yang mengumumkan tetap buka pada hari raya, dengan maupun tanpa penyesuaian jam buka. Lalu apa menariknya?
Tak semua kedai memberi info sebelum hari H. Bahkan kedai pesan antar via aplikasi pun ada yang tetap berstatus buka padahal tutup.
Kenapa bisa begitu? Mungkin karena kita meyakini bahwa masyarakat kita pada umumnya tepa salira, mudah bertenggang rasa. Jadi kalau pada hari raya ternyata kedainya tutup, namun tanpa didahului pengumuman, termasuk di Instagram, harap maklum.
Bahwa calon pengudap akan kuciwa, kadung menembus kemacetan lalu lintas, mana anaknya menangis kelaparan pula, ya mohon maklum adanya.
Saya ingat, pada 1 Januari 2024 setelah bersua Zen RS dan Muhidin Dahlan di Starbucks Jatiwarna, Kobek, kami kesulitan warung makan bernasi yang buka. Akhirnya saya pastikan dulu apakah Café Breezy di Rumah Perubahan milik Rhenald Kasali buka. Untung buka, tetapi banyak pengudap. Menunggu nasi goreng lama nian. Ada sih kedai cepat saji yang buka tetapi kami takkan dapat berbual-bual lama berasap sambil menunjukkan aneka coretan termasuk di kertas.
