Takut terhadap tumpukan beton ringan

Di republik ini sering kali ada ketidakjelasan penegakan hukum, padahal ada hukum dan alat negara

▒ Lama baca < 1 menit

Takut terhadap tumpukan beton ringan di CH — Blogombal.com

Makin tua saya makin penakut. Maka melihat tumpukan bata ringan di emper ruko kosong ini saya ngeri kalau tumpukan itu runtuh dan melukai orang yang lewat di jalan itu.

Tentu saya tak dapat memberikan penjelasan teknis yang masuk akal. Orang yang lebih paham fisika dapat menjelaskannya.

Takut terhadap tumpukan beton ringan di CH — Blogombal.com

Yah, semoga saja tak terjadi hal buruk karena ada tumpukan yang hanya disangga beberapa potongan beton. Padahal di jalan kecil masuk kompleks itu juga lewat truk kecil. Semoga getaran truk tak mengancam tumpukan beton.

Misalnya saya paham risiko teknis, saya harus memberi tahu siapa? Saya tak kenal pemilik bangunan. Mengingatkan warung sekitarnya? Bisa-bisa saya dibilang menghasut karena para tetangga mungkin juga tak mempersoalkan hal itu.

Takut terhadap tumpukan beton ringan di CH — Blogombal.com

Melapor ketua RW karena itu bukan di RT saya? Mungkin saya dianggap mengada-ada, dan pengurus RW pun pasti sudah ada yang tahu tumpukan itu.

Melapor satpol PP? Setahu saya polisi pamong praja tak berpatroli di kompleks saya. Yang sering saya dengar rajin berpatroli itu petugas pengawas proyek bangunan, menanyakan IMB, yang kini berganti PBG, kepada pemilik bangunan yang sedang membangun maupun merenovasi. Kalau tak punya izin ada solusinya.

Takut terhadap tumpukan beton ringan di CH — Blogombal.com

Melaporkan ke kantor kelurahan karena lurah adalah ujung terdepan pemkot? Walah, mungkin saya akan disebut melangkahi kewenangan RT dan RW, karena bermain bypass alias potong kompas. Pak Lurah akan bilang tolong dimusyawarahkan dulu.

Alangkah rumitnya Indonesia ini karena banyak urusan yang tak jelas padahal menyangkut keselamatan. Prinsip yang berlaku adalah kalau yang di atas diam berarti boleh.

Saya membayangkan proses perusakan lingkungan, termasuk penggundulan hutan dan penambangan liar. Warga yang khawatir tak dapat berbuat banyak.

Takut terhadap tumpukan beton ringan di CH — Blogombal.com

Dalam contoh yang katakanlah lebih ringan, setelah kasus pemilik mobil membuat atap, bahkan garasi, di jalan samping rumah untuk mobilnya yang diparkir di sana menjadi viral di media sosial, barulah pemkot bertindak.

Oh, Indonesia menuju 2045….

6 Comments

@sandalian Jumat 26 Desember 2025 ~ 09.57 Reply

Saya beberapa kali melihat truk membawa bata ringan dengan tinggi menjulang.

Respon alami adalah saya melambatkan motor dan menghindari berada di sampingnya saat lampu merah atau saat truk melambat.

Meskipun sudah terlihat diikat tali, lebih baik tidak percaya daripada berbaik sangka.

Pemilik Blog Sabtu 27 Desember 2025 ~ 23.54 Reply

Sebaiknya begitu.
Naik motor maupun mobil di belakang truk yang bawa tripleks tipis maupun Styrofoam itu juga menakutkan.

mpokb Kamis 25 Desember 2025 ~ 12.53 Reply

Panggil damkar saja, Bang Paman? Konon dijamin sat set, no drama 😆

Pemilik Blog Kamis 25 Desember 2025 ~ 20.35 Reply

Damkar pahlawan masyarakat 👍😇

Nohirara Swadayana Kamis 25 Desember 2025 ~ 00.20 Reply

Sistem pengaduan yang paling cepat dan tanggap di Indonesia adalah:

Diviralkan.

Pemilik Blog Kamis 25 Desember 2025 ~ 00.58 Reply

No viral no justice, kata warganet 🙈

Tinggalkan Balasan