
Sudah lama di laci sendok garpu saya lihat barang ini. Sendok lipat gaya tactical. Seperti perlengkapan kamping. Ternyata milik anak saya yang sedang di luar Jawa, sering ke lapangan. Saya tak mencari tahu apakah dia membeli atau dapat pembagian.
Tetapi via WhatsApp dia katakan sendok itu masih dia perlukan. Maka saya tak jadi mengenyahkannya karena saat saya buka seret. Saya bercanda, tak mungkin saya semprot WD40 atau saya tetesi minyak Singer karena tak berkelas food grade. Harus dengan minyak goreng.

Saya teringat keluarga lain yang bapaknya suka beli pernik lapangan padahal dia bukan penyuka kegiatan luar ruang. Kata putrinya, jalan kaki pun bapaknya malas tetapi selalu bergaya outdoor, sejak dulu suka celana kargo, dan benda kecil apa pun berupa karabiner atau dihubungkan dengan pengait itu. Dalam bagian luar ransel juga ada karabiner.
Saya membatin, banyak orang seperti bapak itu, termasuk saya dulu namun dalam rupa berbeda, bukan beli pernik luar ruang bahkan yang ala militer. Bisa benda apa saja yang tak penting amat bisa tiba-tiba terbeli. Apalagi setelah ada belanja daring, mempermudah pemanjaan keinginan, bukan kebutuhan.
Tempo hari seorang pria muda mengeluh, belanja ibunya yang sudah lansia meningkat setelah ada TikTok. Anak-anaklah yang kerepotan karena pembayaran via COD, padahal ibunya tak pegang uang tunai, sementara duit kes anak-anak terbatas, karena mereka menggunakan dompet digital. Barang pesanan yang datang tak penting amat padahal benda sejenis sudah punya, misalnya untuk dapur dan meja makan.
Itu tadi barang, bukan camilan seperti lansia lain yang suka belanja COD. Kalau makanan bisa habis, bukan? Tetapi tidak dengan barang yang bukan supplies macam lilin aromaterapi. Wadah tisu, wadah sendok, dan pemeras buah takkan habis namun terus bertambah.
Coba periksa, adakah barang tak penting amat di rumah Anda, hasil pembelian, bukan pemberian? Tetapi konsumsi menggerakkan ekonomi.
