Mereka menikmati bakso di luar tembok

Ada yang menganggap fasilitas suatu kompleks harus boleh dimanfaatkan orang luar.

▒ Lama baca 2 menit

Sore makan bakso di taman, PG, Jatiasih, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Siang hingga sore tadi setengah lima tak terlalu gerah, angin bertiup tak kencang, maka sungguh asyik untuk menikmati bakso di bawah keteduhan pohon kelapa pada sebuah taman di kompleks perumahan. Siapa yang menikmati? Mereka, bukan saya.

Saya melihat sepintas dari balik tembok. Tampak nyaman dan asyik sekali mereka. Adapun tukang bakso dan minuman ada di pinggir taman. Begitulah, semua orang membutuhkan ruang terbuka hijau. Tetapi jika menyangkut taman dalam kompleks perumahan, saya punya catatan.

Secara umum belum tentu warga perumahan di mana pun rela jika taman mereka menjadi pujasera dengan pemanfaat utama orang luar. Namun hal itu tergantung pengembang dalam membolehkan dan negosiasi dengan pengurus lingkungan. Hal sama berlaku untuk lapangan olahraga yang berumput dengan lapangan basket bersemen dan jogging track.

Sore makan bakso di taman, PG, Jatiasih, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Jika kompleks perumahan terdiri atas sejumlah kluster, bisa saja warga kluster cuek dengan kegiatan bisnis di sepanjang jalan utama, bulevar, adimarga. Namun ada juga yang berkeberatan, misalnya teman saya di kompleks yang saya foto. Bahkan di jalan utama kompleks itu dulu ada pasar kaget pada pagi hari libur. Zona hunian dan niaga dibiarkan kacau.

Ini memang masalah peka. Jika kompleks mudah diakses dari kampung sekitar, ada sekian pintu, pasti akan terjadi aktivitas ekonomi. Kompleks besar dengan adimarga mulus lebar saja bisa menjadikan warga kluster terganggu oleh pelancong, apalagi kompleks yang lebih kecil.

Itulah yang terjadi pada sebuah kompleks besar di Cibubur, Kabupaten Bogor, Jabar, awal 2000-an, tak lama setelah Indonesia sembuh dari krisis moneter. Konsep arsitektural tematis perumahan yang mengadopsi gaya sejumlah negeri mengundang orang luar datang, padahal saat itu media sosial belum marak. Lalu warga pun mengeluh.

Sore makan bakso di taman, PG, Jatiasih, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Dalam perjalanan waktu, para pengembang raksasa lebih realistis karena sesuai logika bisnis: membuat kompleks perumahan besar dengan zonasi lebih tertata, termasuk untuk bisnis yang mengundang orang luar untuk berniaga maupun berwisata kuliner.

Adapun untuk kompleks tak terlalu besar namun berisi sejumlah kluster, ada yang cenderung tertutup bagi orang luar, karena kurir dan tukang ojek pun harus meninggalkan KTP di pos satpam, demikian pula warga luar yang ingin berjalan-jalan pagi di lingkungan hijau. Pedagang keliling juga tidak bisa masuk.

Saya, yang tinggal di kompleks sederhana mirip kampung, bisa menerima hal itu karena alasan orang membeli rumah di lingkungan eksekutif antara lain faktor kenyamanan dan keamanan lingkungan. Namun ada juga yang berpendapat hal itu meneguhkan segregasi sosial karena ada ekskluvisme dalam ruang kehidupan bersama.

Bagi saya itulah tugas negara untuk menyediakan ruang terbuka hijau secara gratis bagi semua orang. Tak hanya menyediakan namun juga merawat dan menjaga keamanannya. Untuk wilayah Jakarta sudah banyak kemajuan, tetapi untuk wilayah di luar garis perbatasan DKI belum banyak kemajuan.

Di Kecamatan Cipayung, Jaktim, yang berbatasan dengan Jabar misalnya, setidaknya ada tiga taman untuk publik. Orang Jatiwarna, Pondokmelati, Kobek, yang berbatasan dengan Jakarta, ibarat kata tinggal ngesot ke sana karena di wilayahnya miskin taman gratis.

2 Comments

mpokb Jumat 7 November 2025 ~ 00.35 Reply

Lhoo.. Kok kayak kenal kompleks ini, Bang Paman 😆
Sepakat, di Jabodetabek ini orang kekurangan RTH. Waktu Bogor memugar alun-alun, yg jalan dan berjualan bukan cuma warga kota, tapi juga kabupaten dan kota tetangga 😄
Coba kalau satu mal atau apartemen yg sepi peminat itu dirobohkan, dibikin RTH atau lintasan joging kek, dijamin ramai 😆

Pemilik Blog Jumat 7 November 2025 ~ 09.02 Reply

Aha! Mbak Mpok tau aja.
Begitulah, tanggung jawab negara untuk menyediakan RTH, bukan cuma bikin plan tapi nggak diwujudkan.

Tinggalkan Balasan