
Jawaban untuk judul tentu mudah: kaum beruang. Semua orang berduit? Tentu tidak, tetapi bagaimana gambaran profilnya, saya tidak tahu. Orang toko buku Periplus yang lebih paham.
Kini jangankan untuk koran dan majalah luar negeri, karena pembeli media cetak dalam negeri pun surut, bahkan secara ekonomis bisa disebut punah, sehingga banyak media cetak tutup.
Dulu pun media luar negeri tertentu terkesankan elitis, misalnya koran Financial Times dan Asian Wall Street Journal, serta majalah The Economist dan Foreign Affairs. Anggota DPR yang punya tunjangan komunikasi besar pun belum tentu berlangganan selain Time dan National Geographic Amrik.
Adapun Monocle, majalah dari Inggris untuk gerbong belakang generasi boomers, generasi X, dan generasi milenial, saya tak tahu siapa pembelinya sekarang. Majalah gaya hidup, fesyen, politik, lingkungan, dan isu global itu sejak dulu mahal. Kini Rp300.000-an. Majalah Wired, Inc., dan Fast Company juga mahal.
Ya, baiklah. Tak usah berpanjang kata. Kini sebagian orang masih melanggani media daring berbayar. Tetapi apakah semua orang yang kesejahteraannya memungkinkan bersedia melanggani media berbayar, saya tidak tahu.
Mungkin kalau pertanyaannya berbunyi apakah Anda bersedia melanggani media gratis, dengan kualitas konten setara media berbayar, termasuk kualitas foto, tanpa banyak iklan sembulan, tentu banyak yang acung jari. Termasuk saya. Harga eceran majalah Tempo saja Rp60.000 plus ongkir, bisa untuk membeli buku.

Nah, sekarang belok topik. Jaringan toko buku Periplus masih bertahan. Artinya masih ada konsumen buku impor. Toko yang saya foto di sebuah mal ini sebelum 2015 masih dua kali ini sekarang luasnya. Lalu tinggal separuh.
Dulu Periplus melayani keanggotaan dengan kartu — karena aplikasi ponsel belum marak — dan melayani buku impor inden. Di bandara juga ada Periplus tetapi saya tak tahu apakah kini pembelinya menyusut karena ponsel dan tablet adalah rak bacaan raksasa. Adapun Books & Beyond, penerus Times Bookstore milik Lippo, sudah tamat.
Banyak yang berubah dalam perdagangan buku dan majalah asing karena disrupsi. Generasi boomers dan X di Jakarta pasti mengenal toko buku Rubino. Adapun toko Gramedia melakukan pendekatan baru untuk rejuvenasi pasar, toko buku sebagai semacam oase, bagian dari gaya hidup urban. Sedangkan Gunung Agung dan kemudian TGA tutup. Aksara sudah tamat.
Akan tetapi toko buku kecil, berisi buku domestik, yang berupa toko buku fisik, bukan daring, masih bertahan di sejumlah kota, bahkan menjadi bagian dari kegiatan komunal.


2 Comments
sesekali masih nyomot Monocle dari Periplus. yang berusaha dirutinkan edisi ganti tahunnya.
Masih pengen ada majalah lokal yang kayak majalah-majalah luar gini.
Waduh, bersyukurlah Njenengan, Mas.
Saya sudah prei dari sekian jenis berkala luar karena sudah jadi pengangguran 🙈🙈🙈
Dulu saya punya member card Periplus.