
“Oom Kam, anggota DPR yang ngeselin itu dipecat, diskors, atau gimana sih?” tanya Raihul Tiwul.
“Nonaktif itu artinya kayak pegawai, tetep berstatus karyawan, masuk kerja, nggak melakukan apa pun, tapi tetep digaji, boleh ambil air dari dispenser, kalo kantornya jenis swasta yang ngasih makan siang ya tetep dapet. Misalnya saat ini menjelang Natal atau Lebaran, juga dapet THR. Gabut yahud, gitu deh,” jawab Kamso, seperti biasanya sok tau.
“Berarti anggota DPR yang dinonantifkan itu tetep enak ya, Oom?”
“Nggak tau. Mungkin santai, mungkin stres kalo punya malu.”
“Jadi mestinya gimana?”
“Partai yang melakukan recall, menarik mereka dari DPR, melalui mekanisme pemberhentian antarwaktu, disusul penggantian antarwaktu, lalu ada penggantinya.”
“Kayak pabrikan mobil recall mobil yang cacat produksi di komponennya ya, Oom?”
“Ya, tapi kalo mobil kan cuma diganti parts yang cacat, ongkos gratis, habis itu mobil dibalikin ke pemilik.”
“Jadi mestinya, partai nggak cuma recall tapi mecat si anggota DPR sialan yang bikin malu partainya itu?”
“Nggak tau aku. Emang partai punya malu? Mungkin ada perhitungan untung rugi atau jasa dari kacamata partai. Lagian kalo dipecat, asal merasa masih punya massa, dan dana, bisa aja mereka pindah ke partai lain.”
“Emang bakalan ada partai yang menerima apkiran? Kalo ganti partai, apa publik mau memaafkan mereka kalo mereka nyaleg lagi atau malah ikut pilkada? Ah, masyarakat juga payah sih, nggak peduli rekam jejak.”
Kamso terbahak-bahak, lalu tersedak. Raihul malah heran, “Napa, Oom?”
“Aku kok inget ayam petelur yang udah nggak produktif, cuma ngabisin pakan, lantas dijual sebagai ayam pedaging. Apkiran jadi kapiran. Kamu pernah makan sate ayam yang dagingnya gemuk?”

4 Comments
Perkembangan anyar.
https://nasional.kompas.com/read/2025/09/03/10092061/susul-nasdem-pan-minta-gaji-dan-tunjangan-eko-patrio-uya-kuya-disetop
Semoga diluluskan
Remunerasi mereka tak sebanding kerugian akibat kerusuhan.
Ada-ada saja partai-partai itu bikin istilah sendiri. Lagipula memang perlu waktu untuk melihat apakah mereka benar-benar jadi apkiran atau jadi kapiran. Mungkin di tengah prosesnya rakyat sudah memaafkan atau malah lupa.
Amnesia kolektif. Itu penyakit Indonesia. Makanya ada yang merindukan zaman Harto lagi. Pokoknya beras murah, BBM murah, dan keluarganya tak ada yang dihilangkan secara paksa.