Parkiran sepeda di ruang publik

Masih nyamankah bersepeda lebih dari 1 km untuk bekerja, bersekolah, dan berbelanja?

▒ Lama baca 2 menit

Paddock sepeda di ruang publik — Blogombal.com

Melihat parkiran sepeda di bawah tangga halte MRT Lebakbulus, Jaksel, dekat markas damkar, saya berpikir agak lama bagaimana cara menaruh sepeda karena tak ada contoh. Namun bukan itu yang penting. Lebih utama ada parkiran sepeda tanpa penjaga. Silakan memasang pengaman ganda.

Di negeri makmur pun ada maling sepeda, kadang motif pelaku hanya mau pakai gratis, lalu kendaraan itu ditinggalkan begitu saja di tempat tujuan. Tentu banyak juga yang motifnya ekonomi, bahkan di Negeri Belanda ada maling yang mengambil jenis sepeda sesuai selera peminat. Laporan sepeda hilang mungkin membosankan bagi polisi Belanda. Tetapi di di sejumlah negeri di Barat sudah lazim asuransi kereta angin.

Abad lalu, seorang Cina teman saya membisiki saya bahwa si A, seorang taipan, pada masa mudanya di Glodok, Kota, punya banyak kunci sepeda. Buat apa? Nyolong pit. Di kemudian hari dia punya banyak usaha legal, yang tak ada hubungannya dengan sepeda, namun akhirnya dia jadi buron. Kalau info masa lalu itu benar, maling sepeda pun bisa sukses.

Paddock sepeda di ruang publik — Blogombal.com

Kembali ke parkiran sepeda, di Jakarta seingat saya paddock basikal mulai ada di sejumlah tempat sebelum 2010, karena gairah para penggowes yang antara lain diwadahi komunitas Bike 2 Work (B2W). Di kantor saya pernah ada paddock dari B2W, antara lain untuk sepeda kami yang merupakan hibah dari paguyuban itu pada 2010. Kini di lapak daring banyak yang menjual paddock.

Waktu saya kecil, sudah lumrah ada dudukan kayu untuk parkir sepeda di sekolah, depan toko, hingga area parkir bioskop. Di kampus saya dulu sempat ada deretan paddock kayu, tinggi, karena semua roda sepeda masih 28 inci, belum ada yang 16 inci apalagi 14 inci.

Paddock sepeda di ruang publik — Blogombal.com

Ketika MTB muncul awal 1990-an, paddock kayu maupun besi sudah lenyap. Pertumbuhan sepeda motor mengenyahkan sepeda. Lalu apakah bersepeda di luar niat berolahga masih menarik? Menurut saya tidak karena cuaca dan kondisi lalu lintas tak nyaman untuk berangkat dan pulang kerja maupun berbelanja lebih dari satu kilometer, apalagi saat matahari masih membakar. Para pesepeda ke tempat kerja selain karena cinta punya kemewahan berupa shower di kantor.

Lalu kenapa dulu bisa, banyak orang bersekolah dan bekerja naik sepeda? Pilihan saat itu terbatas. Tak ada angkutan umum, tak ada ojek motor (ingat, pada mulanya ojek itu dengan sepeda), kredit sepeda motor belum mudah apa lagi kredit mobil.

Di Yogya dulu saya terpaksa bersepeda malam karena sedang tak ada motor, misalnya dari rumah dekat Jalan Gejayan ke Kantor Pos Besar di kilometer nol, mengejar waktu sebelum pukul 22.00, jam tutup loket kilat khusus. Malam itu juga kantor pos akan mengirimlan semua kiriman melalui sepur ke Bandung dan Jakarta.

Saat itu sudah ada faksmile, namun saya lihat Butet Kartaredjasa termasuk pemanfaat loket kilat khusus malam hari, dia naik motor bebek butut. Saya menduga dia selain mengirimkan naskah juga foto ke media di Jakarta. Hanya dugaan karena saya hingga kini tak mengenal si seniman secara pribadi. Di loket petugas membacakan alamat tujuan yang medianya juga saya baca. Tetapi saat itu seingat saya tak ada paddock sepeda di depan kantor pos untuk saya.

4 Comments

Junianto Senin 25 Agustus 2025 ~ 12.48 Reply

Saya mulai rutin bersepeda sejak masuk SMP (1976) dan kemudian hobi pit-pitan dengan banyak kawan (bukan kawan sekolah tapi kawan sekampung plus kampung lain).

Hobi pit-pitan bergerombol saat itu, termasuk ketika malam Minggu, ke tengah kota, sampai dikejar-kejar polisi karena gerombolan kami dianggap mengganggu, ngumpet bareng-bareng di tempat gelap di dalam sebuah gedung sampai situasi aman….

Pemilik Blog Senin 25 Agustus 2025 ~ 22.46 Reply

Waaaaa top.
Saya SMP bertiga ngepit ke Solo, nginep di Gilingan, malam keliling kota, gak tahu jalan, tapi akhirnya bisa sampai rumah inap

Rudy Minggu 24 Agustus 2025 ~ 15.44 Reply

Waktu SMA di Bandung saya naik sepeda ke sekolah, sampai sepedanya hilang dicuri.
Waktu kerja di Bali saya juga sering naik sepeda dan sudah merasakan diserempet mobil dan motor padahal saya ada di jalur sepeda.

Pemilik Blog Minggu 24 Agustus 2025 ~ 20.23 Reply

Tak hanya bersepeda, jalan kaki pun bisa diserempet motor dan mobil.
Dulu waktu masih kuat lari pagi, saya masuk got dangkal karena bahu disenggol spion kijang dari belakang.

Pekan lalu hape saya hampir jatuh karena tangan saya disenggol dengkul pembonceng motor.

Yah, Indonesia tak ada kota seperti di Belanda yang ramah buat pesepeda.

Tinggalkan Balasan